hand work
Ditulis dalam photography
dia: cintanya padanya

sederhana saja:
dia adalah pemuas nafsunya
pemilik nadi dari cinta pertamanya
ialah pengagum denyut jazz dibalut techno
kesukaannya
seperti lilin yang beku
ketika kehilangan panasnya;
ia menjemur airmata
berharap tuntas
dan meranggas
segala gerus
di puncak kudus
lembahnya.
Sakramen bunuh diri
[puisimu: Tidak ada seorangpun yang mampu menafsirkan ia kedalam sajak apapun, remuk menghancurkan sisa-sisa bunga: didadamu. Dan dia akan membunuh seperti langkah patah-patah yang terus mengerangi bayangan, seperti kuburan, seperti gatal ulat bulu, seperti indah matamu; Sesosok masa lalu.]

kasur dengan pesingnya akan kita jemur dipelukan hangat matahari. Diatasnya Kita telah setuju untuk tinggalkan sedikit noda darah. Yah, hanya sebagai pendamping kapuk dan pesing, seperti tiga arah yang rumit; sepeluk, semabuk, sekantuk. Seperti tiga kakiku; dikiri, dikanan, disenapan. Seperti hidupmu; menghancurkan, meninggalkan, mengenangkan
kau tahu?Sajakku telah menggerayangi derita pada pulau-pulau, desa-desa, janda-janda, senjata-senjata, marga-marga. Tapi hanya satu yang bersatu dalam satu luruh: bukan seberapa banyak tubuh runtuh, bukan seberapa tinggi menara jatuh. Untuk luruh terhebat, Bukankah rugi jika tidak Kau putuskan ini sebagai waktu yang tepat untuk bersemedi, atau mati.
Engkau akan baca sajakku seperti kaca saat Kita akan membelah nadi. Kita terlihat seakan-akan menghukum mati sekelompok prajurit yang lupa cara membela diri; tapi jangan takut! ,Negara tak peduli berapa mati di tanah pertiwi, tak peduli berapa sapi membajak kuburan sendiri!
Kelip kelap kulit kelammu
akhirnya kutemukan dalam keterbakaran punggungku yang kemarin: sumber cahaya mengutuk kulitku,
Irama jazz, kutelan sebagai sebulir es , mengeliat dari muntahan kucing bulan lalu, es yang membekukan persendian dari bus terakhir yang menuju perhentianku.Maka maaf, Puisi pertama yang kesepian bersamamu kubawa kembali untuk kuhantar kerumah-singgah.
Dirumah singgah ia akan segera melupakan: Tak baka darah, Tak mewujud jerit kulit
(lahirlah puisi-puisi muda!!hinggap dipangkuanku!!)
Ditulis dalam 1
ia tua sudah
sepi jenis apa
kami tidak akan menulis puisi bersama-sama. karena, sebelum melantunkan cord yang belum kumengerti ia menuduhku mencuri sedikit arah dari kesepiannya. tiang listik yang menjagaku dari dinginnya lubuk mengeliat, menyumpah menyerapah, menyebut tuhan pertamanya…
(aaaaghhhh…jenis kesepian apa lagi ini?!!)
kami tidak akan saling menjaga. karena, sebelum mencairkan kebekuan sisa dirinya ia menjebakku didalam kerangka rumah yang dibangunnya. bulu mataku jatuh, dadaku gemuruh dan tak ada telaga dimana-dimana dari lidah keringku…
(aaaaghhhh…katakan!!, jenis apa lagi ini?!!)






