Oleh: tayak | Agustus 3, 2009

dia: cintanya padanya

mirror_by_i_Riya

sederhana saja:
dia adalah pemuas nafsunya
pemilik nadi dari cinta pertamanya

ialah pengagum denyut jazz dibalut techno
kesukaannya

seperti lilin yang beku
ketika kehilangan panasnya;
ia menjemur airmata
berharap tuntas
dan meranggas
segala gerus
di puncak kudus

lembahnya.

Oleh: tayak | Juli 2, 2009

Sakramen bunuh diri

[puisimu: Tidak ada seorangpun yang mampu menafsirkan ia kedalam sajak apapun, remuk menghancurkan sisa-sisa bunga: didadamu. Dan dia akan membunuh seperti langkah patah-patah yang terus mengerangi bayangan, seperti kuburan, seperti  gatal ulat bulu, seperti indah matamu; Sesosok masa lalu.]

Suicide_by_durkheim

kasur dengan pesingnya akan kita jemur dipelukan hangat matahari. Diatasnya Kita telah setuju untuk tinggalkan sedikit noda darah. Yah, hanya sebagai  pendamping kapuk dan pesing, seperti tiga arah yang rumit; sepeluk, semabuk, sekantuk. Seperti tiga kakiku; dikiri, dikanan, disenapan. Seperti hidupmu; menghancurkan, meninggalkan, mengenangkan

kau tahu?Sajakku telah menggerayangi derita pada pulau-pulau, desa-desa, janda-janda, senjata-senjata, marga-marga. Tapi  hanya satu yang bersatu dalam satu luruh: bukan seberapa banyak tubuh runtuh, bukan seberapa tinggi menara jatuh. Untuk luruh terhebat, Bukankah rugi jika tidak Kau putuskan ini sebagai waktu yang tepat untuk bersemedi, atau mati.

Engkau akan baca sajakku seperti kaca saat Kita akan membelah nadi.  Kita terlihat seakan-akan menghukum mati sekelompok prajurit yang lupa cara membela diri; tapi jangan takut! ,Negara tak peduli berapa mati di tanah pertiwi, tak peduli berapa sapi membajak kuburan sendiri!

Oleh: tayak | Juni 14, 2009

Kelip kelap kulit kelammu

akhirnya kutemukan dalam keterbakaran punggungku yang kemarin: sumber cahaya mengutuk kulitku,

Irama jazz, kutelan sebagai sebulir es , mengeliat dari muntahan kucing bulan lalu, es yang membekukan persendian dari bus terakhir yang menuju perhentianku.Maka maaf, Puisi pertama yang kesepian bersamamu kubawa kembali untuk kuhantar kerumah-singgah.
Dirumah singgah ia akan segera melupakan: Tak baka darah, Tak mewujud jerit kulit
(lahirlah puisi-puisi muda!!hinggap dipangkuanku!!)

Oleh: tayak | Mei 3, 2009

ia tua sudah

Telah didih 100

kering di dahan bebatuan.

sebuah kota tua menyimpan sejarah

dari kebenaran tak terbantah

Oleh: tayak | April 25, 2009

sepi jenis apa

kami tidak akan menulis puisi bersama-sama. karena, sebelum melantunkan cord yang belum kumengerti ia menuduhku mencuri sedikit arah dari kesepiannya. tiang listik yang menjagaku dari dinginnya lubuk mengeliat, menyumpah menyerapah, menyebut tuhan pertamanya…

(aaaaghhhh…jenis kesepian apa lagi ini?!!)

kami tidak akan saling menjaga. karena, sebelum mencairkan kebekuan sisa dirinya ia menjebakku didalam kerangka rumah yang dibangunnya. bulu mataku jatuh, dadaku gemuruh dan tak ada telaga dimana-dimana dari lidah keringku…

(aaaaghhhh…katakan!!, jenis apa lagi ini?!!)

angel_by_andreimogan

Oleh: tayak | April 17, 2009

sesederhana bahasa

“segelas kopi panas

dari liryc

yang belum selesai

diterjemahkan

tidak mengubah apa-apa

dari pagi yang biasa”

kau katakan hal itu berkali kali

mengingatkanku;

akan lekuk bibirmu

saat menjamah

kata “liryc”

yang menggoda.

Oleh: tayak | April 12, 2009

ketiga kalinya: kabut menutup tuju

dengan rasa terima kasih tulus yang malu-malu kusapa penyelamat dari kabut ketinggianku : manusia ketiga yang berhasil memelukku dengan mata nias berbinarnya

demi mati yang menungguku setiap pagi kukabarkan: telah datang seseorang dan menampar pipi kiri yang lupa diri

dengan malu dulu aku menemu diri menari dengan sebagian kaki menyentuh pasir kali. lalu kuciumi tandas beberapa manusia mati dengan harapan cintanya hidup lagi: padaku. ah,masih belum puas, kuhujani punggungku dengan teriakan kesakitan kesatria dari penjuru mata angin sang raja perkasa yang sempurna bisa segala.

kuhakimi telaga dengan tangan-tangan mereka yang mengerti jiwa. masih terasa belum cukup jua, kugugurkan manusia pertama dari tanah sang raja, sedang sang raja kutikam dengan pedang-pedang yang nyata. maka gugurlah, maka gugurlah kesempurnaan. telah kuhujamkan kebumi sisa diri dari pagi yang telah usai.

tanpa tahu, lalu segala menjadi dusta, percuma, sejarah pencarianku terhapuskan, kukabarkan: seseorang datang lagi membawanya dan menampar pipi kiri yang lupa diri.

ah, dengan rasa terima kasih tulus yang malu-malu kusapa penyelamat dari kabut ketinggianku : manusia ketiga yang berhasil memelukku dengan mata nias berbinarnya

Tulisan Sebelumnya »

Kategori