Nilai-Nilai Moralitas dan Eksistensi Sosial


Tanpa kita sadari kita telah melakukan penilaian-penilaian terhadap individu diluar kita, tanpa kita sadari juga kita telah melakukan pengkotakan-pengkotakan manusia. Sayangnya seringkali penilaian kita sering tidak jelas bahkan adakalanya salah dan sangat subjektif.

Kenapa sering tidak jelas? pertama, konsep tentang manusia selalu dirumuskan oleh kelompok tertentu yang secara struktural memiliki kemungkinan untuk mengekspresikan sosial budayanya. kelompok lain yang telah dinominasi tidak memperoleh kesempatan dalam merumuskan “manusia ideal” di dalam kehidupan masyarakat.

kedua, konsep manusia ideal dirumuskan oleh kelompok mayoritas yang menguniversalkan diri dan akhirnya diterima sebagai universal oleh kelompok lain yang tidak dominan. Maka bagi kelompok yang tidak dominan, menjadi manusia yang benar dan baik berarti berganti peranan; serupa dengan keinginan kelompok mayoritas.

Manusia terikat pada relasi-relasi sosial atau pada struktur. Pandangan tentang manusia hanya didasarkan pada relasi antar subjektif saja. Pada sejarahnya manusia menciptakan struktur-struktur yang pada akhirnya menjadi otonom dan mengkondisikan manusia.

Adakalanya struktur melahirkan objek-objek, dan akhirnya objek itulah yang menjadi eksistensi manusia. misal : “seorang yang memiliki mobil mewah”, kita kenal sebagai “si mobil mewah”. Akhirnya aspek “memiliki” menjadi “cara berada”.

Disinilah pengkotakan manusia menambah jurang sosial manusia itu sendiri. manusia terjebak dalam sruktur dan struktur mengendalikan pandangan tentang manusia. sehingga orang yang tak terjebak dalam struktur dianggap aneh, gila, nyeleneh,meleset dll. Lalu ketika mereka(orang-orang yg akhirnya menyadari hal ini) menyatakan diri; bahwa mereka sama sekali berbeda dengan golongan lain, bukankah mereka juga terjebak dalam pemikiran struktur dan persepsi itu sendiri? bukankah mereka juga membenarkan persepsi mereka sendiri tentang manusia ideal?.

About these ads

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Mei 15, 2008, in Essai, stay_BacaRuik and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: