mulutku menelan tubuhku tanpa diremukkan, tanpa sempat dilumatkan .
angin tahu. tapi angin justru mengoceh sendirian, tak ada keinginan menceritakan kejadian barusan pada teman-teman. tapi burung diam-diam mendengar celotehan itu saat angin lewat diketiak, diantara sayap yang merentang menampung.
oh, burung memang tak punya bahasa ‘pulang’ sebelum terbang pada sarang…
mulutku menelan tubuhku. tubuhku sendiri, tubuh dari mulutku pribadi. engkau tak tahu, tapi aku akan bukakan rahasia semesta bagi engkau yang jalang : tentang bagaimana menelan tubuh sendiri dengan mulut pribadi…!!!
mari, ada tiga tahapan menuju penelanan : tiga rumah yang jurang. tiga kata yang saling perang dengan tiga juntai permata di leher bunda yang dilakonkan siang. Dan remang-remang kota tualang bersama jamuan bibir terhadap persinggahan pada liang.

