leherku menarik bahasa dari punggungku. demi lidahku..!, justru demikianlah mereka menyelamatkan reruntuhan dari kokohnya peradaban. dan tepat sesaat sebelum aku menjadi senyawa dari pesawat tempur yang terbang sia-sia demi darah dan kematian, sebuah kota tua yang lupa dimana menaruh peta dirinya menebas leherku. memerdekakan bahasa atas segala arah yang ada..
bahasaku membawa mulutku bersamanya. mengajarkannya teka-teki gila dan seremoni-seremoni dunia. mereka perkasa dan jumawa. jauh, jauh meninggalkan bayanganku di tepian serayu yang beku ditubuh bekasku.. tapi suatu pagi, tubuh bekas itu bangkit dari petasan yang menyimpan sebelas tanda luka di dahi. Menceritakan padaku tentangku :
ah…, aku menderita komplikasi dari penyakit orang-orang mati : Hypsiphobia, Basiphobia musim padi.
ah…, aku ditelan kematian sebelum ajal sempat menjelaskan mulut dari bahasaku sendiri : mereka menelan tubuhku yang mati..
*Hypsiphobia(kecemasan yang tidak wajar terhadap ketinggian),
Basiphobia(kecemasan yang tidak wajar akan jatuh)

