1. #Parade-Parade Jemu
Kita akan sering bertemu untuk saling menjamu, sayang. Gugurnya kandunganmu dan khianat calon ibu: untuk anak-anak yang sempat kita kira tak jadi lahir melalui rahimmu. lalu Kita akan saling jemu, sayang……kata “melulu” mengantar peluru ke rusukmu. dan kita bersetuju berjalan dengan tumit, demi sepatu plastik yang rumit di bahumu. Demi pekat nikotin di darahku.
Ketahuilah, suatu hari engkau akan menggigau atas namaku (dengan cara-cara palsu), akupun begitu: menelanjagi dosamu. Dan kita saling terbakar dan membakar dengan lidah kita yang tiba-tiba bara : tumbuh api.
Tapi aku masih dan tetap akan menolak dikalahkan dengan buru-buru, sayang.. setahuku, jemu tak pernah menemu tuju,..dan tak pernah cukup segitu
Bagiku ini begitu lucu, sayang….jerit rindu burung hantu,,jerat yang kujelaskan sebelum kita memilih bosan dan saling meninggalkan (dengan ini, kuharap engkau tertahan)
2. # Parade-Parade Ngilu
Kulantun Rindu Padamu yang bersetia dengan khianat
(Penikmat dendang tamat)
Pagi, bidadari, permaisuri, tak salah lagi kau suami-istri
Dan anak baik gugur merinding sebagai peri dengan langkah patah-patah tanpa gigi.
Aku Bocah bodoh yang tak rela berbagi, menyenyumimu, minimal sekali pada setiap pagi.
Mengagumimu memang tak kenal mending: terhantam selamanya, atau memutuskan menyiksa
Jika sekiranya senyum saja cukup; demi wangi kaki kusumpahi tuhanmu atas nikmatnya yang cacat
(aku masih sekarat membayangkan bias keparat itu mendarat tepat).
Telah Begitupun, masih tak sempat sendat Margin Volume dan Frekuensi , karena dada kesatria tak berkarat , tak bersekat
.
.
(dan untuk itu Berdosalah tuhanmu padaku)
3. #Parade-Parade Ungu (Derap Sisa Gugur Sepatu)
Pernah, anda dengar telinga saya sejenis kelamin betina. Pada anda, Ia adalah anak dari Serayu dan rumpun ragu-ragu. Anda bercerita “derita ungu sungai” lengkap serta dengan segala hulunya. Cerita itu, yang mestinya saya baca “derap sisa gugur sepatu”. sebelumnya saya sempat lupa dan memalsu diri pada anda
Maka saya tebus dosa, saya karang sebaris lagu, nostalgia, hilangnya gagah perkasa: tentang jumawa diri anda. Tentang anda yang membangun pusara, dan tak pernah meninggalkannya. meski tak sempat remukkan kepala…
Pernah, saya meninggalkan dan menolak singgah, menyetubuhi istirah dengan lelah. saya yang dihancurkan dan menghancurkan peradaban, saya yang dikenang dan mengenang.
Dan tahu apa anda tentang ketragisan?!, Tentang saya yang pernah memenggal kepala, dan memisahkannya jauh dari jantung kota…
Setelahnya, masihkah seakan dengan tindak tanpa dosa anda lontar Tanya?. Ketahuilah sayang, Saya tak pernah menjujuri luka apa saja, kecuali pada sebuah toga bikinan orang tua dan jenis ketulusan terhadap bahagia anda.
4. #Parade-Parade Gugur Sepatu
Kau gugurkan sepatuku; karena demimu tak kubiarkan batu tetap batu (Sejarah yang ditata berdarah)
Tak lama kuintip gugur Sepatumu; demi ibu, kakakmu telah memecah batu, dan kau menangisi bertubi; meski tanpa maksud khianati. (Sejarah yang ditata bernanah)
Dan memang, Bajingan kecil seperti kita lantas pantas sengsara; demi sepatu yang telah menanak luka di payudara; kita saling berpura.
5. #Parade-Parade Janji Palsu
Jangan beri mandat
Atau laknat
Pada keparat
Karena Ia justru hebat
Ketika berbau lumut
Dan diasin-asingkan
Kiamat
6. #Parade-Parade Lemari Buku
————–dariku: PraLemariMu
“Pustakaku tak berkaca, sayang. Tidak seperti layang-layangku yang dengan mudah menembus keningmu
Didalam Pustakaku Ada Sebuah lemari buku, dan kita sama-sama tau: didalamnya telah tersedia yang tak boleh dibaca bahkan olehku-olehmu”
————–darimu: LemariKu
“Tempelkan kaca. Aku ingin menembus keningmu dengan mudah, memasuki awan rendah
Dan Jika kau lelah, kubacakan sesuatu dari lemari tak berpenghuni tepat sebelum kau kukhianati”
————–IsiLemariKu
“TAMAT”



