Air Tidak Tersedia Untuk Cuci Muka Ataupun Buang Air

RAMBUTNYA sudah memutih. Seperti laki-laki paruh baya kebanyakan, perawakannya sedikit gemuk. Dengan telaten pengurus mesjid tersebut mengayunkan sapu, membersihkan debu-debu yang tersisa dari para pengunjung. Di halaman, ia mengumpulkan kerikil, kemudian meletakkan kembali kerikil tersebut ditempatnya.

Memang, di halaman ada kerikil lain yang sengaja di tumpuk sebagai penghias halaman. Mesjid tersebut cukup besar dengan halaman yang cukup luas. Bangunannya di cat berwarna hijau. Berdiri di tepi jalan Kampuang Tangah, Lubuk Alung, Kilometer 33 Jalan Raya Padang-Bukittinggi, plang Mesjid dibuat berbahan seng, berukuran sekitar 50cmx 1m, berdasar putih dengan tulisan berwarna merah. Kalau tidak salah tulisannya berbunyi : Mesjid Siti Hajar.
Read the rest of this entry

Menghadapi Gelombang Baru Faham Atheisme

MENGHADAPI GELOMBANG BARU FAHAM ATHEISME

Oleh: Redi Irwansyah

Alexander An bisa dibilang tidak beruntung. Pasalnya, dari sekian banyak penganut atheisme di Indonesia Alexander An menjadi salah satu dari sedikit orang yang ditangkap dan dihajar massa. Disertasi Saiful Mujani berjudul  “Muslim Demokrat” yang disusun pada tahun 2001-2002 untuk menyelesaikan program Doktoralnya di Ohio State University, sebenarnya menemukan paling tidak ada satu persen dari masyarakat Indonesia yang terindikasi menganut faham Atheis dan Agnostik. Sebagian besar dari mereka, menurut Mujani, lebih memilih diam dan merahasiakan faham yang  mereka anut tersebut.

Jika di Inggris penganut atheis dapat dengan leluasa mengkampanyekan tidak adanya tuhan dengan cara berkeliling kota menggunakan bis, di Indonesia mereka harus bersembunyi dengan rasa takut.  Penganut atheisme di Indonesia memang tidak mendapat tempat di dalam masyarakat yang menganut filosofi Pancasila. Tidak seperti di beberapa Negara lain, di Indonesia atheisme jelas merupakan faham terlarang karena tidak sesuai dengan sila pertama Pancasila.

Diluar itu semua, Atheisme adalah sebuah counter culture (budaya tanding) dalam struktur masyarakat yang didominasi oleh penganut theism (istilah untuk penganut agama dan ketuhanan). Sebagai budaya baru yang muncul secara tiba-tiba di tengah-tengah dominasi agama, reaksi masyarakat tentunya negatif.  Apalagi masyarakat Indonesia dapat dikategorikan sebagai masyarakat yang masih “buta” akan faham dan teologi.

Masyarakat Indonesia juga cenderung fanatik dengan kepercayaan yang mereka anut. Isu-isu sosial seperti hadirnya aliran agama baru, pelecehan agama dengan media gambar maupun video, bahkan tempat-tempat hiburan, minuman keras, seks bebas, serta perzinaan menjadi Isu yang sensitif dan krusial. Beberapa kelompok yang mengatasnamakan agama tidak segan-segan melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok lain yang mereka anggap mengganggu ketentraman agama mereka. Beberapa kelompok yang lebih berbahaya bahkan dengan sengaja dan tanpa rasa bersalah melakukan tindakan terorisme terhadap tempat-tempat yang menurut mereka tidak suci.

Isu ini sebenarnya tidak terbatas pada masyarakat grass root saja. Di Indonesia, bagi politisi isu agama menjadi isu penting. Tidak mengherankan jika akhirnya politisi daerah berkampanye dari mesjid ke mesjid sebagai penceramah. Sementara itu, politisi nasional mati-matian merangkul tokoh agama untuk dijadikan salah satu tim sukses. Begitu juga dengan para elit daerah, melalui perangkatnya mereka bahkan tidak segan-segan memanfaatkan isu agama dan melabrak semua hal yang tidak selaras dengan kepercayaan kelompok yang dominan. Hal tersebut juga dipertegas dengan lahirnya perda-perda yang menyudutkan kelompok yang didominasi. Seperti yang kita ketahui, di beberapa daerah lahir perda tentang maksiat yang didasarkan pada aturan salah satu agama.

Meskipun faham atheisme bukanlah barang baru, sebenarnya masih cukup mencengangkan ketika menemukan fakta bahwa saat ini bermunculan sejumlah kelompok dan individu secara terbuka berani mengklaim diri sebagai atheis atau agnostik (orang yang skeptis terhadap keberadaan Tuhan). Beberapa situs internet membuka forum untuk masyarakat penganut atheisme. Di jejaring sosial Facebook muncul grup Indonesian Atheist Society, The Indonesian Community for Agnostic, Atheist and Sceptic, Indonesian Freethinkers dan Komunitas Agnostik Republik Indonesia. Beberapa group lainnya bahkan berani menyebutkan asal anggota dari komunitasnya sendiri. Katakanlah Minang Atheis, dimana Alexander An menjadi Administratornya.

Hal tersebut tentunya penting dicermati karena merupakan salah satu bentuk konflik sosial terbuka yang efeknya dapat bersifat krusial terhadap kondisi  masyarakat pada umumnya. Penganut agama yang cenderung fanatik di Indonesia tentunya tidak akan tinggal diam saat Alexander An mulai “bernyanyi” tentang fahamnya. Apalagi, dengan dimunculkannya Alexander An secara besar-besaran di media memberikan akses langsung kepadanya untuk bicara secara langsung kepada masyarakat. Masalahnya, tingkat pemahaman masyarakat akan faham-faham baru masih lemah. Bisa dikatakan, masyarakat belum siap dengan teori-teori yang rumit sebagai landasan atheisme.

Keberanian Alexander An dalam menyatakan faham yang dianutnya secara terbuka adalah salah satu indikasi kemunculan kembali budaya tandingan atheisme. Counter Culture sendiri adalah istilah sosiologis yang digunakan untuk menggambarkan nilai-nilai dan norma-norma perilaku dari kelompok budaya, atau subkultur, yang bertentangan dengan orang-orang dari mainstream sosial (“counterculture,” Merriam-Webster’s Online Dictionary, 2008).

Masyarakat Indonesia jelas telah menolak faham atheism. Pada tahap ini, sebagai counter culture, kukuhnya pendirian Alexander An adalah  bentuk upaya mendapatkan persetujuan (consent) ulang, baik secara personal, komunal, maupun institusional. Persetujuan tersebut memang sangat dibutuhkan sebuah faham demi mendapatkan posisi baru dalam sebuah struktur masyarakat.  Setidaknya, Alexander An telah membuka ruang bagi masyarakat untuk mempelajari faham atheisme.

Sebenarnya,  Atheisme memiliki klasifikasi tersendiri. Menurut Steven D Schafersman, secara umum seorang Atheis dapat dikategorikan Atheis Praktis atau Atheis Teoritis. Bentuk-bentuk atheisme teoretis yang berbeda-beda berasal dari argumen filosofis dan dasar pemikiran yang berbeda-beda pula. Katakanlah pemikiran-pemikiran barat mulai dari Feuerbach hingga Karl Marx, dari Voltaire hingga Albert Camus, dari Freud hingga Pascal, Sartre hingga Nietzche dan sederet filsuf lain yang menyisipkan ajaran atheism dalam bidang ilmu pengetahuannya masing-masing.

Sebaliknya, atheisme praktis tidaklah memerlukan argumen yang spesifik. Atheis Praktis terbentuk lebih dikarenakan kekecewaan terhadap hidup dengan minimnya pengetahuan tentang agama dan ketuhanan. Secara teori, Atheis praktis adalah tahapan awal seseorang menjadi atheis kuat yang nantinya dengan berani menyatakan dihadapan publik pandangannya tentang tidak adanya tuhan seperti Alexander An.

Alexander An memang tidak pernah terjun ke ruang teoritis.  Tapi, tentu saja  menjadi sangat tergesa-gesa jika mengelompokkan Alexander An sebagai Atheis Praktis. Ia pastinya juga menyadari rendahnya tingkat kesiapan masyarakat luas dalam mengenal teori-teori yang dijadikan landasan Atheisme.

Saat ini, Alexander An bisa dikatakan sedang berjudi. Terbukanya mata masyarakat terhadap faham-faham yang bertentangan dengan filosofi hidup mereka selama ini sebenarnya dapat berpengaruh positif terhadap penguatan identitas. Penolakan secara bersama-sama secara tidak langsung membangkitkan pertahanan melalui fanatisme.

Namun, pada era globalisasi informasi, masyarakat dengan karakter seperti ini tentu sangat rentan terpengaruh oleh faham-faham baru yang telah sejak lama berkembang. Tidak dapat dipungkiri, saat ini tidak semua masyarakat mengenal istilah atheis. Sebagai faham terlarang, jumlah masyarakat yang memahami seluk beluk dan jenis pemikiran atheisme juga hanya dapat dihitung dengan jari. disinilah perlunya konfrontasi terbuka terhadap faham-faham tersebut.

Selain identitas yang kuat, masyarakat yang melek faham tentunya memiliki daya tahan yang lebih terhadap datangnya faham-faham baru. Dalam proses penanganan Alexander An, demi tujuan penguatan identitas masyarakat untuk menghadapi gelombang faham kedepanya, penelusuran pemikiran Alexander An tentunya akan sangat efektif. Oleh karenanya, diperlukan orang-orang dengan pemahaman filsafat dan agama yang mumpuni untuk mengkonfrontir An.

Tindakan kepala daerah kabupaten Dharmasraya yang mengusakan “pencerahan” terhadap An tentunya tidak akan membuahkan hasil. Kata “pencerahan” tidak berlaku bagi orang-orang seperti Alexander An yang mampu memilih meloncati pagar ideologi sebuah negara.

Masyarakat tahu, Alexander An tidak sendiri. Group Minang Atheis saja memiliki seribu lebih anggota yang tersebar. Penyebarannya juga cukup cepat, mobilitas dan keberadaannya juga sulit dilacak, karena memang menggunakan jaringan internet. Oleh karenanya, hal terpenting yang harus diupayakan adalah pembekalan masyarakat dengan segala pengetahuan tentang aliran yang bertentangan dengan filosofi yang telah menjadi identitas mereka selama ini. Masyarakat dominan tentu berharap para elit kembali memainkan perannya: konfrontasi pemikiran secara terbuka dengan faham ini perlu dilakukan. Sebab, masyarakat tidak perlu segan menggiring masalah ini ke ranah akademis, demi menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, terbuka dengan identitas yang kuat.***

Apa di Kotamu Ada Bioskop?

“sesampainya di laut, kuceritakan semuanya”

tapi kau tidak pernah menceritakan semuanya, El. Di kerongkonganmu ada rumah gadang, berhala, lampu kota dan magnum. Aku hanya ingin mencurimu dari mereka, untuk kukantongi, dan kunikahi , di bioskop.

“masih lamakah?”, tanyamu. Dan gigi-gigi mengatup.

kebanyakan Jurnalis memang begitu, El. Arwah mereka meletup, berputus asa. Sengaja, mungkin. Menyerah pada kejadian dan kecurangan. Maka tolonglah berhentilah bernyanyi; karena hari-hari selalu kembali, seperti di bulan Januari. Seperti di bulan januari, aku kembali menginginkanmu. Dan dengan sesederhana itu : engkau melamarku.

“mungkin tuhan mulai bosan?”

Engkaulah tuhan. Dan aku tetap saja mencuci kaus kaki, El. Persiapan untuk bertemu gerombolan penjahat, calo calon, tanah ulayat dan janin. Untuk itu, tolonglah menjauh, untuk kuperistri nanti, atau mati, di bioskop, sebagai tuhan.

“aku tidak percaya , apa buktimu”, katamu. Dan gelombang tiba-tiba pasang. Merah Padam: dari senyummu yang terlalu simpul

Memang, Kebanyakan penyair begitu, El. Kaki-kaki berapi, yang membakar. Sengaja atau tidak, mereka mencintai kebenaran. Dan membenarkan. Maka tolonglah berhenti tersenyum; karena di matamu; singgalang runtuh, menjadi air, yang kau bawa di lengan. Dan karena penyair memilih sendiri tuhannya, aku memilihmu.

Percayalah, aku masih ingin mendaki gunung, El, kebenaran pada salah satu sudut kotamu. Justru karena rumput tidak lagi bergoyang, El : “alam mulai enggan bersahabat”

Pergeseran Motif Kegiatan Jurnalisme Investigasi

Oleh: Redi Irwansyah

Pada pertengahan  tahun 2011 sebagian besar elit dunia sempat dikejutkan oleh Wikileaks, yang dalam laporannya mengungkap bobrok-bobrok besar di berbagai belahan dunia. Laporan tersebut kemudian di Follow up oleh beberapa media. Alhasil, tim kecil yang berisi pribadi-pribadi luar biasa ini kemudian di uber-uber banyak negara karena dianggap dapat mengacaukan stabilitas internasional.

Begitu juga yang dialami David Graham Philip, yang menulis laporan berseri The Treason of the Senate (kecurangan di Senat). Ia harus menyaksikan langsung kemarahan Presiden Amerika Serikat saat itu, Theodore Rosevelt (S. Santana. Jurnalisme Investigasi. Yayasan Obor Indonesia. 2003).

Catatan awal reportase investigasi disebut-sebut terbit pada Tahun 1960. Benjamin Harris menerbitkan laporan yang berjudul Public Occurrences, Both Foreign and Domestic (kejadian Umum yang berlangsung di luar dan dalam negeri). Surat kabarnya kemudian ditutup oleh pemerintah Amerika. Laporan Benjamin Harris tersebut kemudian dianggap sebagai laporan investigasi pertama meskipun jauh sebelumnya, pada tahun 1721, James Franklin harus meringkuk di penjara, karena reportasenya dianggap sembarangan.

 Di Indonesia, juga sudah banyak reporter yang harus meringkuk di dalam penjara saat mencoba lebih jauh mengorek informasi dan menerbitkannya. Beberapa media bahkan di bredel. Pada zaman Soeharto, Indonesia Raya yang mengungkap kebobrokan dan korupsi di Pertamina yang melibatkan Soeharto dan Ibnu Sutowo akhirnya ditutup. Begitu juga TEMPO, yang mencoba menulis secara lengkap soal skandal pembelian kapal perang bekas armada Jerman Timur, yang melibatkan Menteri Riset dan Teknologi, waktu itu B.J. Habibie dengan Soeharto dan Liem Soei Liong.

Gunawan Moehammad, mantan pimpinan redaksi Majalah Tempo bahkan memutuskan berhenti sebagai Pimpinan Redaksi dan menghentikan produksi investigative reporting setelah menuai berbagai masalah. Beliau kemudian dituding banyak pihak berhenti menjadi seorang jurnalis sejak saat itu.

Investigate (English) sendiri terdiri atas dua penggalan kata. Yaitu Invest dan Gate. Harfiahnya, Investigasi bisa didefinisikan dengan: mengeluarkan sumber daya untuk mendapatkan sesuatu (Invest) yang disembunyikan dari orang lain (Gate/Skandal). Tujuannya sendiri cukup jelas, untuk mengungkap hal-hal yang sangat krusial dan sengaja tidak dimunculkan. Lumrah,  jika akhirnya investigasi sendiri akhirnya harus berdekatan, bahkan berdekapan dengan hal-hal berbau tabu dan bahaya.

Pergeseran Motif

Setelah reformasi dan diluncurkannya UU No. 40 Th 1999 tentang Pers, Pers seperti mendapatkan nafas baru. Kemudahan prosedur penerbitan media menjadi alasan bermunculannya berbagai media di Indonesia. Media-media yang mengkhususkan diri menyediakan laporan investigatif pun mendominasi. Banyaknya media khusus investigasi ini kembali membuka harapan akan Indonesia yang jauh lebih baik. Meskipun, pasca penerapan UU 40 Th 1999 tersebut, kualitas seorang jurnalis justru menjadi masalah tersendiri. Uji kompetensi tentunya tidak dapat dilakukan secara menyeluruh.

Rasanya cukup logis mengatakan bahwa kemampuan seorang jurnalis dalam mengungkapkan fakta kecurangan-kecurangan yang terjadi, baik di lingkup birokrasi hingga kejadian-kejadian yang berkembang di tengah masyarakat berbeda satu sama lain. Begitu juga motif yang digunakan. Seorang jurnalis mungkin saja menyajikan laporannya dengan harapan dapat menciptakan keadaan yang lebih baik dalam masyarakatnya. Meskipun tidak dapat dipungkiri, ada juga jurnalis yang sengaja membuat laporan investigasi untuk menembus tingkatan karier yang lebih baik.

Hegemoni media-media besar yang biasanya terbit secara harian menciptakan Demonstrasion Effect(kecenderungan untuk meniru) khas kapitalisme di setiap insan Pers hingga calon jurnalis. Media-media Investigasi yang tidak begitu terkenal namun aktif menyajikan laporan investigasi baik mingguan maupun bulanan tidak lagi menjadi target cita-cita tempat kerja bagi kebanyakan mahasiswa jurnalistik. Tingkat gaji yang lebih tinggi dan kebanggaan bekerja di media-media harian lokal maupun nasional akhirnya menjadi alasan-alasan mereka berkarya.

Dilain pihak, besarnya sumberdaya yang harus dikeluarkan dalam menghasilkan laporan investigasi membuat kebanyakan jurnalis akhirnya memilih hanya melakukan tugas-tugas resmi semisal menghadiri pertemuan dewan kota, DPR atau pertemuan lainnya. Mereka mencatat atau merekam pertemuan, kemudian menyelesaikan berita sebelum deadline (tenggat) untuk kemudian memperoleh amplop.

Jurnalis seperti ini jelas tidak mampu menjadi investigator, karena mengikuti agenda pihak lain, ia tidak memiliki tujuan tersendiri dan tidak begitu peduli dengan efek dari publikasi beritanya. Ia enggan memikirkan fungsi, tujuan maupun nilai-nilai jurnalisme. Ia gagal menangkap pembicaraan pribadi diantara anggota dewan kota, stafnya dan interes grup. Ia tidak menelaah  kontak-kontrak atau membuka dokumen rahasia lain yang potensial. Jurnalis seperti ini lebih banyak berlaku seperti pengeras suara dibandingkan reporter atau penulis.

Macetnya Jurnalisme Investigatif

Meninggalkan nilai-nilai etika dan moral demi mengamankan sejumlah materi memang terjadi hampir di setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia, tidak terkecuali jurnalisme di Sumatera Barat. Dengan sedikitnya investigator yang tersisa, masih ada saja yang bahkan membuat laporan untuk keuntungan pribadi dengan menjual data dan fakta. Akhirnya, aspek moral, yang menurut Mencher (Melvin Mencher, News Reporting and Writing, Brown & benchmanrk Publishers,1997) merupakan pemicu utama bagi para jurnalis dalam melakukan peliputan investigasi,  tidak mampu memacu gairah produksi laporan investigasi.

Selain itu, beberapa media kecil di Sumatera Barat yang masih berusaha untuk tetap eksis ternyata sama sekali tidak memberikan kompensasi yang cukup bagi jurnalis-jurnalisnya. Tanpa gaji yang cukup, akhirnya jurnalis-jurnalis yang kurang sejahtera ini, terkungkung dalam iklim amplop yang menggila. Dihujani amplop dari para pejabat, jurnalis-jurnalis ini memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri.  Amplop yang lebih lebar bahkan bisa didapat jika jurnalis ini memiliki data dan bukti kecurangan pejabat pemberi amplop.

Sumatera Barat sebenarnya memiliki media-media Investigasi yang cukup punya kompetensi dan sudah berkiprah sudah cukup lama. Saat ini masih terbit koran-koran mingguan seperti Jejak News, Bakinnews, Investigasi dan Binnews yang sejak awal berdirinya mengkhususkan diri menyajikan laporan investigasi. Koran-koran ini pada kenyataannya tidak begitu dikenal oleh masyarakat luas. Dengan oplah yang terbatas akhirnya laporan-laporan mereka hanya dibaca oleh segelintir orang yang memiliki kepentingan saja. Dengan minimnya pembaca, tujuan dari penyajian laporan investigasi pun akhirnya sulit untuk dicapai.

Media harian di Sumatera Barat yang notabene-nya memiliki pembaca yang lebih banyak, juga menyajikan beberapa laporan investigasi, meskipun tidak begitu mendalam-karena memang bukan merupakan bidang khususnya.

Meskipun sebenarnya mampu menghasilkan laporan investigasi yang bernilai, wartawan harian yang jumlahnya terbatas ini dibebani berita setiap harinya. Mereka tidak memiliki waktu tenggat yang cukup untuk melakukan paper & people trails. Tidak ada narasumber dan saksi kunci baru yang berhasil ditemukan, tidak ada dokumen dan catatan publik yang diteliti dan dianalisa. Laporan dibuat berbahankan catatan-catatan yang dibuat sendiri sebagai hasil wawancara dengan pihak berwenang.  Penetrasi dan Inovasi dalam berwawancara dan penulisan berita juga masih terlalu minim karena berbenturan dengan kebijakan jumlah halaman dan arah kepentingan berita pada tiap media. Alhasil, banyak media harian gagal menghasilkan laporan investigasi yang berkualitas.

LSM sebagai Investigator dan mitra utama penyedia informasi bagi para jurnalis juga mengalami hal yang hampir serupa. Tindakan penyelidikan yang dilakukan secara swadaya oleh intelijen mereka,  hingga data-data laporan yang diperoleh,  tidak mendapat kesempatan publikasi yang lebih luas – karena dikalahkan space iklan.

Selain itu, menurut Ellizabeth Fuller Collins dalam bukunya “Indonesian Betrayed” yang diterbitkan  University of Hawai’i Press pada tahun 2007, LSM di Indonesia cenderung menggunakan hasil penyelidikan untuk menutupi biaya yang dikeluarkan dan mendapatkan keuntungan pribadi.  Pada Bab yang berjudul “LSM: Mana Lokak Saya?- Negara dan Korupsi”, Ellizabeth menceritakan secara terbuka tindak-tanduk tidak benar dari beberapa LSM di Indonesia, khususnya Sumatera Selatan. Apa yang terjadi di Sumatera Selatan juga tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Sumatera Barat. “Bagi-bagi jatah” menjadi hal yang lumrah. Dan bukan tidak mungkin dapat dibuktikan secara langsung.

Kemudian, rasanya tidak terlalu berlebihan juga jika penulis mengatakan bahwa di Sumatera Barat, cita-cita untuk menciptakan good governance dan social goodness masih terlalu jauh.  Disamping masyarakatnya yang memang belum cukup mampu menyadari pentingnya memperjuangkan hak-hak mereka serta tumpulnya penegak hukum, pers sebagai alat kontrol sosial juga dinilai masih gagal memainkan fungsinya. ***

KAU LARANG MEROKOK

(1) El, setelah peluru yang kukirim nyasar ke dadamu aku adalah rumah hantu abu-abu (kau masuki ragu-ragu).  Dengan penuh curiga,  segera saja kau lepas jahitan di kepala dan di tetek bandara; kau lepas rindumu di udara.

Segala yang kini kau kira percuma dan sia-sia, kau gubah jadi kata sederhana; “complicated”, katamu. Di balik kulit, aku terpaksa membisu, meringkuk di lubuk, untuk kemudian membusuk seirama letupan gulungan kertas sumbu; akulah pembunuh kekarmu yang angker

(MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER)

(2) El, kita telah diasin-asingkan kiamat; pada dendang garang kata tamat.  Irisan batok kepalaku telah mencekikmu. Kau yang telah mampu berhitung, kini menabung garam; dimatamu, dan mataku.

Siksa untukmu yang kuselipkan di lobang gigiku telah kumuntahkan; setajam serapah (kontroversi tanpa akar masalah, kontradiksi dari aku yang pernah gemar bersumpah)

Aku mencumbu rasa sakitmu; kematian dariku yang tidak butuh aba-aba (bahkan jejatuhan batu bata). Kau meringkuk terhimpit bangunan. Sebab ketika kata-kata tumpah ditubuh sebagai musuh; duniamu sontak luruh, runtuh. Padaku kata-kata masih pandai bicara: terimakasih kurir kosong delapan lima dua “we has been delivered,  fastly and absolutely safetly”. Dan cermin serta kaca-kacaku pecah; Pesawat tempur terbang rendah.

(MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN SERANGAN  JANTUNG)

(3) Penyair yang lapar telah kehabisan sajak berkelamin rayu, El. kumohon kau menyerah tak bersyarat ke rumah makanku.

(MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN IMPOTENSI)

(4) Pada satu episode,  El, aku pernah bermimpi melukis satu telur asin pemenang lomba; lomba yang berhadiah utama senyawa keras wajahmu, gemetar bibirku. Tapi jutaan telur asin dari tokoku mungkin tak akan pernah kau temui di meja kerjamu. Sebab kini kau dirasuki radiasi, dilarikan oleh kata-kata dan enggan kembali. empat roda yang kukirim dari kurir kosong delapan lima dua telah mencuri jabang bayi. Keparat yang telah menggali kubur bagi telur asinku pantas sengsara (aku yang mengerut.

Sekarang katakan!,  tetap masih belum kau bacakah sesalku?.

Dan dari sesal yang bebal, untukmu pernah kuurai setampuk rayu; “hapus saja El, toh, ia hanya sejumput kata akhir yang mesra”. Dan kau belai seonggok batu; “padamu memang segampang lupakan nomer telpon sedot tinja” (garam pandai menyair di matamu, dan dengan diam-diam cegukan sajaknya mengintaiku)

(MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN)

Padang, 2010

One Day for Holly Package

1. #Parade-Parade Jemu

Kita akan sering bertemu untuk saling menjamu, sayang. Gugurnya kandunganmu dan khianat calon ibu: untuk anak-anak yang sempat kita kira tak jadi lahir melalui rahimmu. lalu Kita akan saling jemu, sayang……kata “melulu” mengantar peluru ke rusukmu. dan kita bersetuju berjalan dengan tumit, demi sepatu plastik yang rumit di bahumu. Demi pekat nikotin di darahku.

Ketahuilah, suatu hari engkau akan menggigau atas namaku (dengan cara-cara palsu), akupun begitu: menelanjagi dosamu. Dan kita saling terbakar dan membakar dengan lidah kita yang tiba-tiba bara : tumbuh api.

Tapi aku masih dan tetap akan menolak dikalahkan dengan buru-buru, sayang.. setahuku, jemu tak pernah menemu tuju,..dan tak pernah cukup segitu

Bagiku ini begitu lucu, sayang….jerit rindu burung hantu,,jerat yang kujelaskan sebelum  kita memilih bosan dan saling meninggalkan (dengan ini, kuharap engkau tertahan)

2. # Parade-Parade Ngilu

Kulantun Rindu Padamu yang bersetia dengan khianat

(Penikmat dendang tamat)

Pagi, bidadari, permaisuri, tak salah lagi kau suami-istri

Dan anak baik gugur merinding sebagai peri dengan langkah patah-patah tanpa gigi.

Aku Bocah bodoh yang tak rela berbagi,  menyenyumimu, minimal sekali pada setiap pagi.

Mengagumimu memang tak kenal mending: terhantam selamanya, atau memutuskan menyiksa

Jika sekiranya senyum saja cukup; demi wangi kaki kusumpahi tuhanmu atas nikmatnya yang cacat

(aku masih sekarat membayangkan bias keparat itu mendarat tepat).

Telah Begitupun, masih tak sempat sendat Margin Volume dan Frekuensi ,  karena dada kesatria tak berkarat , tak bersekat

.

.

(dan untuk itu Berdosalah tuhanmu padaku)

3. #Parade-Parade Ungu (Derap Sisa Gugur Sepatu)

Pernah, anda dengar telinga saya sejenis kelamin betina. Pada anda, Ia adalah anak dari Serayu dan rumpun ragu-ragu. Anda bercerita “derita ungu sungai” lengkap serta dengan segala hulunya. Cerita itu, yang mestinya saya baca “derap sisa gugur sepatu”. sebelumnya saya sempat lupa dan memalsu diri pada anda

Maka saya tebus dosa, saya karang sebaris lagu, nostalgia, hilangnya gagah perkasa: tentang jumawa diri anda. Tentang anda yang membangun pusara, dan tak pernah meninggalkannya. meski tak sempat remukkan kepala…

Pernah, saya meninggalkan dan menolak singgah, menyetubuhi istirah dengan lelah. saya yang dihancurkan dan menghancurkan peradaban, saya yang dikenang dan mengenang.

Dan tahu apa anda tentang ketragisan?!, Tentang saya yang pernah memenggal kepala, dan memisahkannya jauh dari jantung kota…

Setelahnya, masihkah seakan dengan tindak tanpa dosa anda lontar Tanya?. Ketahuilah sayang, Saya tak pernah menjujuri luka apa saja, kecuali pada sebuah toga bikinan orang tua dan jenis ketulusan terhadap bahagia anda.

4. #Parade-Parade Gugur Sepatu

Kau gugurkan sepatuku; karena demimu tak kubiarkan batu tetap batu (Sejarah yang ditata berdarah)

Tak lama kuintip gugur Sepatumu; demi ibu, kakakmu telah memecah batu, dan kau menangisi bertubi; meski tanpa maksud khianati. (Sejarah yang ditata bernanah)

Dan memang, Bajingan kecil seperti kita lantas pantas sengsara; demi sepatu yang telah menanak luka di payudara; kita saling berpura.

5. #Parade-Parade Janji Palsu

Jangan beri mandat

Atau laknat

Pada keparat

Karena Ia justru hebat

Ketika berbau lumut

Dan diasin-asingkan

Kiamat

6. #Parade-Parade Lemari Buku

————–dariku: PraLemariMu

“Pustakaku tak berkaca, sayang. Tidak seperti layang-layangku yang dengan mudah menembus keningmu

Didalam Pustakaku Ada Sebuah lemari buku, dan kita sama-sama tau: didalamnya telah tersedia yang tak boleh dibaca bahkan olehku-olehmu”

————–darimu: LemariKu

“Tempelkan kaca. Aku ingin menembus keningmu dengan mudah, memasuki awan rendah

Dan Jika kau lelah, kubacakan sesuatu dari lemari tak berpenghuni tepat sebelum kau kukhianati”

————–IsiLemariKu

“TAMAT”

seorang ibuku: kudap lah cinta

yang tersisa dari panen terakhir adalah sekat-sekat pematang dan lelaki jalang. mungkin kau masih ingat saat kau bilang: “wah, memangnya setelahku ada berapa??”: saat itu ada lidah yang membuatku tiba-tiba menjadi kotoran dengan wangi kau suka. dengan izinnya maka kukunyah putingmu, kupaksa air susu keluar ke dunia masa-masa yang sukar. wahai keparat yang lengah, tolonglah menjadi seorang ibuku!!!

disemak belukar kita akan temukan sepasang cincin kawin. satu untukmu, lainnya untukku, masing-masing kita dapat satu. sedang untuk ibuku? ya, dilehernya kulilitkan tali sepatu. sejarah perjalanan panjangku dan lentik bekas gigitmu dibahuku. dirinya, tanpa seremoni kita akan menjadi suami istri. dirimu, kutanda-tangani surat kuasa dari “secantik seorang ibuku”.

maka kitalah suami istri, tanpa mas kawin dan surat berbentuk buku dari mantri. ya, rumah tangga kaumodali dengkul dan seorang ibuku yang suci. tanpa cangkul lalu kita berproduksi :siang-malam hingga pagi..