COUNTER CULTURE DI DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA


Dimana mahasiswa yang berbudaya ilmiah?, apa penyebab rendahnya kualitas lulusan?, siapa yang bertanggung jawab atas bobroknya sumber daya manusia Iindonesia?. Pertanyaan-pertanyaan sejenis sering kita jumpai, berikut juga alternatif solusi yang dapat ditempuh yang dikemukakan dan ditawarkan “spesialis pendidikan”.

Di tengah masyarakat, bahkan orang-orang yang terbilang awam pun berani menyatakan pandangannya. Adakalanya argumen mereka tersebut dihiasi dengan cerita-cerita yang mendebarkan, penuh semangat, dan penuh mimpi. Hal itu menunjukkan adanya perhatian dan kecintaan masyarakat luas yg sangat besar terhadap permasalahan yang ada dalam dunia pendidikan kita.

Maka jangan salah, tulisan seperti ini dapat kita temui dimana saja, kapan saja, dengan tokoh penulis dan sudut pandang yang mungkin berbeda. Katakanlah; Politikus, intelektual kampus, ataupun budayawan. Meskipun dengan konsepsi sudut pandang yang ngawur dan arah yang tidak jelas saya akan coba mengulas kembali masalah dilematis dunia pendidikan kita ini sekali lagi.

Dari sisi penulis, tulisan ini ditujukan sebagai refleksi dari semakin disadari rendahnya kualitas lulusan dengan penuh oleh seluruh lapisan masyarakat dewasa ini. Sarjana yang mampu menguraikan isi pikirannya dengan bahasa bersih, gagasan runtut, logis, dan terperinci, hampir menjadi spesies langka di tanah Indonesia.

Sementara itu, pusat-pusat konservasi malah dijadikan manufaktur yang memproduksi robot-robot dengan desain baru yang menggiurkan. Disaat kita membutuhkan pemikir dan pemimpin yang memiliki kemampuan konseptual, perguruan tinggi justru berpacu memproduksi “pekerja” setengah manusia!. Mesin- mesin bekerja sesuai dengan prosedur, sarjana dipoles seindah-indahnya agar memiliki nilai jual, dibungkus dengan baik melalui pengawasan yang ketat. Kemampuan dan keragaman pemikiran mahasiswa dimandulkan, diarahkan untuk satu tujuan; bekerja, bukan berkarya!.

Berkat proses homogenisasi produksi, maka dihasilkanlah produk yang hampir saling identik(kita tidak bisa meremehkan aspek subjektivitas manusia). Namun jelas, diakui atau tidak mahasiswa hampir selalu dan terus menerus diberlakukan sebagai objek. Mahasiswa adalah bahan baku yang akan diproses menjadi produk. Lalu apa peranan mahasiswa?, beberapa diantaranya; menghafal, menghafal, menghafal!!!. Atau dengan kalimat lain; ikuti arus produksi agar dapat menjadi produk bermutu demi akreditasi!!. Maka lenyaplah mahasiswa –mahasiswa yang dimnamis dan kritis. Produk bermutu diartikan manusia dengan kemampuan teknis nyaris sempurna.

Secara berani kita harus mengakui dengan jujur bahwa seperti inilah realitas dunia pendidikan kita, secara holistik maupun parsial. Pandangan-pandangan seperti itu telah memiliki eksistensi penuh dan mendominasi masyarakat. Charlotte Buehler membenarkan adanya kecenderungan struktur sosial mengarahkan masyarakat menuju homogenisasi. Menurut Buehler, “interaksi individu dengan pola-pola tindakan, cara berpikir, maupun cara hidup kelompoknya akan membentuk sikap (attitude) terhadap eksistensi, keberperanan dan keberfungsiannya dalam kelompok melalui proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturisasi”. Manusia terikat pada struktur social masyarakat . distribusi kebudayaan yang terus berlangsung dari generasi kegenerasi diterima dengan sadar ataupun tidak sadar. Secara tidak sadar, individu memposisikan pandangan hidup masyarakat sebagai pandangan hidupnya sendiri (internalization process). Secara sadar, individu dapat berperan sebagai penganut kebudayaan(creature of culture), pembawa (carrier), manipulator maupun pencipta (creator).

Penyempitan dan pemandulan cita-cita pendidikan telah begitu mengakar dan membudaya. Masayarakat ilmiah kita, yang saat ini menganut “ideologi manufaktur” sendiri adalah hasil dari interaksi sosial. Hampir semua elemen masyarakat memiliki dimensi cara pandang yang sama; perguruan tinggi adalah pasar modal, dimana investasi yang dilakukan secara sadar, diharapkan mampu menghasilakan return yang memuaskan. Dan hal tersebut semakin dipersempit lagi; return yang memuaskan adalah tingkat pengembalian berupa “fulus” dengan jumlah besar!.

Lahirnya pandangan-pandangan tersebut dapat dikarenakan oleh beragam dan bermacam factor, determinan ataupun abstrak . Maka untuk dapat memastikan penyebabnya, perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam. Namun, sebagai hipotesa awal, secara deduktif-induktif, bahkan dengan kasat mata kita dapat melihat adanya kecenderungan saat ini bahwa demi mencapai target, manusia tidak lagi dijadikan “subject of knowledge”. Justru sebaliknya, ilmu pengetahuan dimasukkan langsung kedalam mulut dan ditelan. Bahkan untuk mengunyah saja kita belum mampu. Maka, dilakukanlah pembatasan ilmu pengetahuan. Faham atau “isme-isme” yang dianggap berbahaya (karena keterbatasan kemampuan mencerna) dilarang masuk, masyarakatbelum cukup cerdas dan kritis!. Masalah ini kemudian menjadi paradoksal. Kebodohan merajalela!

Beberapa aktivis yang belakangan sempat bertatap muka dengan penulis sendiri, menolak mentah-mentah tuduahan ini. “kami kritis, kami hadir setiap kali diadakan demonstrasi, kami berani melawan kesewenang-wenangan!”. Ironis, makna dan arti kritispun saat ini telah disempitkan!

Budaya Tanding

Jika Karl Marx getol dengan revolusi kebudayaannya, penulis mencoba mengajukan pembentukan “counter culture”(budaya tanding). Istilah counter culture sendiri adalahistilah dalam filsafat antropologi sosial yang secara sederhana didefenisikan oleh Jhon Milton, dalam bukunya Counter Culture(1982) sebagai “seperangkat sikap dan pola perilaku dari sebuah kelompok yang secara tajam bertentangan dengan pola sikap dan perilaku dominan dalam masyarakat dimana kelompok itu menjadi bagiannya”.

Pembentukan “counter culture” itu sendiri penting dilakukan ditengah arus kebudayaan menghafaldan “ideologi manufaktur” yang mendominasi masyarakat pendidikan kita. Karl Marx melalui filsafat materialisme-nya terus menerus membuktikan adanya proses dialektika (logika-kontradiksi-mekanis) dalam pembentukan kebudayaan. Secara historis, pergeseran nilai-nilai, norma-norma, pola perilaku dan pandangan hidup yang ada adalah hasil dari adanya pergesekan antara kultur yang mendominasi dan subkultur yang terus berusaha merealisasikan ideal budayanya. Budaya yang eksist saat ini adalah sintesa berupa budaya campuran yang diperbaharui, maupun budaya yang berhasil keluar sebagai pemenang atas kontradiksi yang ada. Dan hal ini, menurut Marx, akan terjadi terus menerus, sepanjang pembuatan sejarah terus dilakukan. Lalu siapa yang akan menjadi tokoh?. Tentu saja manusia-manusia muda, yang semakin merasakan adanya ketidakberesan stuktur sosial yang lama dan memiliki pemahaman akan hal tersebut.

Apa saja bentuk budaya tandingan (counter culture) yang perlu dan kita butuhkan?. Sebagai langkah awal, kita harus mengembalikan posisi ilmu pengetahuan sebagai objek “pelayan” manusia.

Mahasiswa harus mampu bersikap aktif dan reaktif, bahkan represif, dalam hal ini terhadap ilmu pengetahuan. Dengan kata lain; kita budayakan kembali kekritisan, kita harus mencari, mengunyah dan menelan, merasakan kemudian menciptakan sesuatu yang baru di bidang ilmu pengetahuan. Kita buang perspektif lama, kita ganti “bekerja” dengan “berkarya”. Dimana, berkaryakita maknai sebagai pengaplikasian ilmu yang kita dapat melalui lembaga pendidikan (apapun orientasi dari konsentrasi ilmu yang dipelajari!). Karena, tanggung jawab pengembangan ilmu pengetahuan bukan dibatasi atau diperuntukkan bagi mahasiswa program doktoral semata. Tanggung jawab ini sepenuhnya adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, demi menciptakan kualitas kehidupan yang lebih baik.

…. Dum spiro, spero ….

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Mei 15, 2008, in Artikel, filsafat and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: