moralitas absolut


untuk memberikan tanggapan atas pertanyaan salah seorang sahabat tentang nilai-nilai moral dan pengaplikasian nilai-nilai moral dalam kehidupan,

norma moral adalah hal utama yang perlu dicermati dalam kehidupan masyarakat. paparan tentang adanya nilai moralitas(moralitas absolute) dapat kita temukan didalam setiap tingkatan masyarakat. untuk lebih mudahnya kita dapat mengacu pada faham yang dianut Emanuel Kant dalam “imperatif categories”.kant menggambarkan aturan-aturan moral yang abadi, dan hukum-hukum tersebutlah yang nantinya dapat dijadikan acuan dalam melakukan sebuah tindakan yang memerlukan pertimbangan moral. apa yang dilakukan kant pada umumnya telah dilakukan juga oleh moralis-moralis lainnya disamping aturan agama yg juga menyerukan batasa-bataasan moral abadi.kita tidak dapat membahas aturan agama pada saat ini, dikarenakan bahasan tersebut membutuhkan kajian labih lanjut(kajian tentang moral dapat mengambang pada kajian eksistensi jika diteruskan).

untuk lebih baiknya, kita akan meruntut kepada metode penetapan nilai moral. seperti yang telah diketahui secara umum,pada tahap awal penyusunannya tidak ada yang buruk pada para moralis penyusun hukum-hukum moralitas. kenapa mereka tidak buruk?yaitu karena tujuan/niat yang tulus tersebut bertolak dari hati nurani untuk mencapai kesempurnaan kehidupan bermasyarakat. namun,faktanya…, tidak ada satu konsep hukum moral-pun yang lepas dari pertentangan, baik dengan hukum itu sendiri maupun dengan hukum moral lainnya. “keabstrakan” nilai moral adalah salah satu fenomena menarik.seperti yang coba dimunculkan disini bahwa konsep nilai yang diterima secara universalpun memiliki potensi untuk merugikan beberapa pihak(mis:membunuh untuk membela diri?,melacur untuk mempertahankan hidup?dll).

namun, pengaturan batasan-batasan atau hukum-hukum perlu dilakukan,yaitu sebagai hasil dari perkembangan sosial.hukum-hukum moral tergantung kepada masa dan masyarakatnya, tergantung pada kondisi dan situasi masyarakat pada saat itu. maka tidak hukum moral yang abadi. dan naif sekali rasanya untuk menyalahkan pelaku atas pilihan moral,jika pilihan moral memiliki aspek2 pertentangan dalam konsepnya.

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Mei 15, 2008, in Essai, stay_BacaRuik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: