Tujuan Menghalalkan Cara


TUJUAN

Jika kita benar-benar mencoba menilik esensi dari kata “sebab” dan “akibat”, akan terdapat sebuah kerancuan yang dapat diklasifikasikan sebagai yang absurd. Akhirnya kita harus menyadari bahwa tidak ada “sebab” dalam setiap tindakan, melainkan hanya “akibat”. Tindakan adalah sesuatu dilakukan atas dasar akibat2 yang diharapkan (expected). oleh karenanya, sebab adalah akibat itu sendiri. hidup sendiri adalah serangkaian mekanisme yang contradictive, atau dikatakan akibat-akibat yang dialektis.

Setiap hal memiliki tujuan-tujuan yang merupakan akibat yang diharapkan (untuk selanjutnya, Saya memilih kata tujuan untuk menggantikan “akibat yang diharapkan”), Semuanya bersumber dari rasio manusia atau sesuatu yang kita sebut kesadaran. Seperti yang saya tulis sebelumnya, kesadaran adalah segalanya. Kenapa segalanya? Karena segala hal diluar kesadaran memiliki tujuan-tujuan yaitu “untuk disadari”. Eksistensi adalah kesadaran. Dan segalanya memiliki tujuan yang sama yaitu : eksistensi.

Secara sederhana, kita dapat membuat analogi-analogi yang dapat dengan mudah menjelaskan tentang tujuan sebagai esensi dari hidup itu sendiri. Tanpa tujuan maka tidak akan ada mekanisme apapun. Tidak adanya mekanisme maka tidak ada eksistensi (mis : tidak ada proses maka tidak ada hasil). Hukum kausalitas(sebab-akibat) yang lama dan usang, belum menjelaskan segalanya dan dapat dipakai sebagai acuan krangka hipotesa dan teori. Yang ada hanya hukum tujuan, dimana hidup adalah tujuan yang merupakan sebab-sekaligus-akibat dari adanya kehidupan. Sesuatu tidak ada tanpa adanya tujuan yang menyertainya.

CARA

Cara adalah bentuk dari bagaimana tujuan-tujuan dapat dicapai. Pada tahap inilah (pemilihan cara atau metode) terdapat adanya efek paradigma atau pengaruh perpektif yang dipakai oleh subjek terhadap ketercapaian tujuan itu sendiri. Paradigma sisi subjek pada akhirnya akan menentukan metode-metode yang dapat digunakan. Dan metode yang digunakan dalam usaha mencapai tujuan akan sangat menentukan keberhasilannya.

Akan tetapi, dalam realitas kehidupan. Dalam hal ini, dikarenakan adanya kecendrungan oleh struktur social masyarakat untuk menerapkan cara-cara yang memiliki batasan-batasan moralitas absolute mengakibatkan pemilihan metode cenderung tidak memaksimalkan pencapaian tujuan. Disinilah timbul perbedaan pendapat dan perdebatan yang berlangsung sejak berabad-abad yang lalu antara banyak ahli moralitas. yaitu, bagaimana tujuan dapat menghalalkan cara itu sendiri.

KECENDERUNGAN TERAKHIR

Kecendrungan terakhir yang saya temukan adalah, bagaimana cara-cara sendiri akhirnya menjadi tujuan bukan lagi bagaimana tujuan-tujuan dapat dicapai (belum lama ini seorang anggota DPR menyatakan dengan tegas bahwa demokrasi adalah tujuan, bukan cara). saya tidak akan mencoba membantah ataupun berusaha meluruskannya. Karena memang, saya tidak memiliki kapasitas untuk hal tersebut.

Selanjutnya, perdebatan yang lebih sengit antar faham dan ideologi-ideologi akan menjadi sebuah keharusan. kita akan menunggu

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Mei 15, 2008, in Essai, stay_BacaRuik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: