untuk perempuan minang


“inilah bentuk pemberontakan dari jiwa yang selama ini telah diperbudak”. tulisan ini saya temukan disalah satu surat kabar yang ternama di negara ini.

tulisan ini berjudul “baburu, sebuah khasanah budaya minangkabau”. secara terbuka penulis memperkenalkan budaya minang terutama berburu kepada pembaca, akan tetapi ditengah-tengah penuturan yang sederhana saya tersentuh dengan kalimat yang telah saya tuliskan diawal tulisan ini, dan bagi yang dapat menangkap isi tulisan tersebut akan dapat melihat dengan jelas apa tujuan utama penulisan tersebut. saya tidak begitu mengenal siapa penulis tersebut, akan tetapi ia jelas-jelas adalah “jiwa yang diperbudak”.

beliau adalah seorang lelaki minang, dan setiap lelaki minang dijaman beliau adalah lelaki teraniaya yang diperbudak. benarkah demikian?

sekarang kita lihat, apakah benar lelaki minang kabau jaman dulu adalah objek penganiayaan?. lelaki minang tidak memiliki harta apapun, tidak diperkenankan memimpin, bersantai dirumah, bersenang-senang, bahkan seorang laki-laki minang tidak memiliki tempat tinggal yg jelas di masa itu.

apakah benar demikian?

yup..

lelaki minang ibarat abu diateh tunggua, dapat diterbangkan jika tidak dinginkan dan ia akan terbang entah kemana. ia tidak memperoleh harta apapun, semua harta dimiliki saudara perempuan. dia tidak pernah memimpin, ia hanya sebagai lambang, karena pemerintahan ditangan bundo kanduang. dan setinggi jabatan seorang lelaki minang hanya sebagai penghulu, yaitu sebagai pemecah masalah, dan apa yang didapat setelah ia dapat memecahkan masalah kaumnya?

kita akan lihat riwayat lelaki minang. semua lelaki minang jaman dulu memiliki jalan hidup yang sama. setelah ia melepaskan masa balita yaitu saat ia berumur kurang lebih 7 tahun, ia akan “diusir” dari rumah untuk belajar disurau, surau atau lebih kita kenal dengan mushalla atau mesjid, yang pada jaman dulu diminang kabau adalah lembaga pendidikan, disurau anak laki-laki minang akan dilatih mengaji, silat, dan lain2 hingga ia cukup bertanggung jawab dan siap silepas ke tengah masyarakat, dan berkat  “karantina” tersebut lelaki minang memiliki jiwa yang kuat. kemudian dia tidak akan “dikembalikan kerumah”, ia akan dinikahkan dengan orang yang telah meminangnya.

mungkin anda telah tau bahwa diminang perempuan meminang laki-laki. setelah menikah ia akan bakureh untuk perempuannya. dan kalau saja mereka bercerai apakah siperempuan pulang ke rumah orang tuanya?

tidak;

jadi si laki-lakilah yang pulang kerumah orang tuanya?

sama sekali tidak;

laki-laki akan keluar dari rumah dan akan kembali kesurau hingga ajalnya menjemput, jika ia tak menikah lagi.

tapi kenapa ia tidak kembali ke rumah orangtuanya saja?. diminang, lelaki dewasa tidak diijinkan tinggal dirumah karena ia tak memiliki hak terhadap rumah orang tuanya, sebuah aib jika ia tinggal dirumah orang tuanya. karena rumah itu milik saudara perempuan. sedangkan tinggal serumah dengan seorang saudara perempuan dan urang sumando amat memalukan bagi laki-laki minang masa itu.

bukankah itu menyedihkan?

mungkin itulah alasan tak adanya pemberontakan persamaan hak oleh perempuan minang, mereka telah dapat apa yang mereka mau, sedangkan laki2nya dengan jiwa kuat yang telah mereka didik sejak kecil menerima itu semua dengan sabar sebagai sebuah keharusan.

dan bukankah ini menarik?

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Mei 15, 2008, in Essai and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: