GRESILDA, DAN SEBUAH NAMA DARI “JENIUS GILA”


Seorang ibu tua menatap kejauhan dari jendela, seakan matanya yang renta mampu menembus perbukitan yang menghalangi pandangannya ke kota. Kota besar yang liar, kota besar yang dulu pernah memaksa seorang gadis perkasa tunduk pada keagungannya. Kota besar yang membuatnya seakan menjadi sebuah titik pada papan iklan sebuah produk kecantikan. Masih diingatnya dengan jelas ketika dulu seorang pemuda pernah menyapanya dengan mesra. Lalu menatap lembut, tatapan yang melumpuhkan bahasanhya, tatapan yang meggetarkan tubuhnya.
“Pram”, pemuda itu menyodorkan tangan sembari mengernyitkan dahinya sebagai sinyal ingin berkenalan. Kinar membalas dengan tatapan tajam, kemudian diam, sembari tetap menatap untuk waktu yang bagi Pramudya cukup lama. Cukup lama untuk membuat seorang pemuda merasa risih dan putus asa. Pram membalas tatapan kinar, mencari celah dimana ia bisa masuk hingga ke lubuk hati gadis itu. Pram memang tidak pernah menyerah, tidak sekalipun!.
Sedikit kata meungkin dapat mencairkan suasana, pikir Pram. Dalam sekejap puluhan kata berjuntaian dalam pikirannya, dipilih, kemudian dirangkainya.
“oh, elang memang tak perlu merentangkan sayapnya bila ia telah berada diudara, anda mungkin merasa terganggu dengan kehadiran saya, saya minta maaf. Saya hanya ingin sedikit ngobrol dengan anda, apa anda keberatan?”
Kinar mengehela nafas dengan dalam. Ia tidak tahu apa yang mesti dikatakannya. Dibalik tatapannya yang seakan menyelidik, kinar percaya bahwa ia telah jatuh hati pada pemuda ini;pemuda dengan tatapan teduh. Pembawaannya yang tenang dibalik penampilan yang eksentrik dan melawan arus merefleksikan kecerdasannya, hal inimenambah daya tariknya, setidaknya bagi kinar.

“Kinar, namaku Kinar”
Jawaban Kinar yang sederhana itu memang cukup sebagai jawaban bagi Pram untuk dapat melanjutkan pembicaraan dengannya, jawaban sederhana itulah yang telah memberi jalan bagi pemuda ini untuk mendekatinya. Pemuda itu lalu ia kenal sebagasi lalakinya, lelaki yang menjelma bunga dihatinya, lelaki yang dicintainya dengan sungguh, lelaki yang menjadi suamnya, lelaki yang menjadi suaminya, lelaki yang menjadi ayah bagi anaknya.

***

Dering telepon membuyarkan khayalan Kinarsih akan masalalunya. Dari jendela, kinarsih berlari menuju sumber suara, “ini pasti dari Gres”, pikirnya. Kinarsih buru-buru menjawab telepon itu. Kerinduannya tidak akan membiarkan suara dering itu berbunyi lebih lama. Kerinduannya pada anak satu-satunya peninggalan pram telah mencekiknya. Rindu itu tidak memberi kesempatan pada segala sesuatu untuk menahannya.

“halo..”
“halo bu…,tebak deh, Gres mau ngabarin apa coba..?”
Bergaris senyum berlabuh di bibir kinarsih, bermekaran seperti kerinduannya. Bagaimana tidak, dalam dua pekan ini, baru kali ini gres menghubunginya. “Mungkin gres terlalu sibuk dengan urusan studinya”, ucap batin Kinarsih beberapa hari yang lalu. Dan sekarang, Gres malah menggodanya dengan tebak-tebakan yang hanya menambah daftar kerinduannya. Sekarang ia betul-betul rindu tawa lepas anaknya. Oh, dulu adegan itu dapat disaksikannya setiap saat!.
“hmm, kamu.., siapa nama pemuda yang beruntung itu, ibu nggak mau calon mantu ibu punya nama Komar lo Gres…”
“ih, ibu godain Gres mulu nih, Gres kan udah bilang kalau Gres ngga mau pacaran, ibu gimana sih..?”.

Tawa renyah kemudian hadir ditengah-tengah mereka, menyalurkan kerinduan, melupakan sejenak jarak antara mereka.
“Gres lagi dalam perjalanan nih bu, mau menemui ibu. Gres mau ngerayain sesuatu. Kalau nggak ada kendala lagi, Gres udah bisa diwisuda bulan September depan bu..Artinya, ga lama lagi Gres udah bisa berkarir bu. Gres senang banget bu, bahagiaaa banget. Pokoknya kita harus ngerayain ini, ibu setuju kan..?”.
Gres memulai kembali pembicaraan dengan ibunya, kalimat demi kalimat dilontarkannya dengan cepat, kebahagiaan terlarut dalam ucapannya yang penuh semangat. Bagaimana tidak, kerja kerasnya selama ini akan membuahkan hasil. Gres memang getol sekali ingin berkarir. Seperti ibunya, gres ingin sekali seperti Bhuto, Cory Aquino, Hellen Keller, Kartini dan sederet nama lain yang memotivasinya. Ia ingin seperti mereka; menjadi besar dan berkarya, membuktikan pada dunia, bahwa perempuan tidak lagi bisa dipandang sebelah mata.

Diseberang sana, sebuah mutiara bening mengalir di pipi Kinarsih yang telah keriput oleh waktu. Kebahagian itu seperti bisa racun yang dapat ditularkan. Kini, seluruh tubuh Kinarsih telah dialiri rasa yang ranum itu. Rasa yang menjelma bunga dilubuk hatinya,bunga yang mekar pada setiap hal yang dipandanginya.
“bu, ibu kok diam aja..?”kasih selamat dong buat anak ibu yang cantik ini”
Kinarsih masih terdiam dalam bulu-bulu lembut kebahagiaan.”oh, apa lagi yang harus kukatakan?, aku bahkan tak tahu apa aku harus menangis atau tertawa,. Terima kasih tuhan, terima kasih atas kebahagiaan yang engkau karuniakan melalui anakku…”
Di tempat yang lain, rasa cemas mulai menyerang Gresilda,
“bu, apa ibu baik-baik saja”
“ oh, I’d never been more better than this, sweetheart”

***

Sebuah mobil berwarna hitam, mendahului mobil yang dikendarai gres dengan kecepatan tinggi. Hari ni lalu lintas memang terlihat lengang, apalagi lalulintas antar kota. Gres mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, musik lembut dari tape mobilnya menambah kenyamanannya berkendara, namun tidak mengurangi kewaspadaannya. Gres memang selalu berhati-hati dalam berkendara. Kinarsih selalu mengingatkannya akan hal ini.

Tepat setelah sebuah tikungan, Gres melihat dua mobil saling bertabrakan. beruntung, karena kecepatannya yang tidak tinggi ia masih sempat untuk menghentikan laju kendaraannya. Dari dalam salah satu mobil yang mengalami kecelakaan, terdengar teriakan minta tolong. Tidak ada siapa-siapa lagi disana, hanya gresildalah harapan satu-satunya. Gres cepat-cepat turun dari mobilnya. Ia kemudian berlari secepatnya menuju sumber teriakan. Sepertinya perempuan, sekitar tiga puluh tahunan, masih lengkap dengan busana kerjanya. “kasihan sekali orang ini”, batin gres bergeming. Gres mencoba melihat keadaan korban di mobil lainnya., dua orang pemuda terlihat sudah tidak bergerak. Pandangannya kemudian dialihkan kembali pada perempuan tadi, perempuan ini terjepit diantara rongsokan mobilnya.

Sambil berlari tadi, gresilda sempat melaporkan kejadian ini dan meminta bantuan ambulans. Saat ini itulah satu-satu harapannya untuk orang-orang ini. Tidak ada satu halpun yang dapat di lakukannya.
Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi. Setelah sebuah tikungan pengendaranya terkejut oleh kecelakaan sebelumnya terjadi. Pengendara truk tidak mampu mengendalikan klendaraannya, truk menghantam dua buah mobil, termasuk mobil yang dikendarai Gresilda dengan keras. Gresilda yang sedang berusaha menolong salah seorang korban kecelakaan di salah satu mobil lainnya ikut terkena hantaman truk, tidak dapat mengelak.

***

Dua orang perempuan berseragam putih memasangkan alat bantu pernafasan pada Gresilda.
“apakah kalian malaikat…?!, apa aku bisa menjadi seperti kalian?. Lihatlah hai para lelaki…,siapa bilang tidak ada maliakat perempuan, lihat mreka…!!”
Lalu, dingin menusuk-nusuk tubuh Gresilda, perlahan matanya terasa berat.
“kesadaran terakhir…!, kesadaran terakhir, tunggu…!!, jawablah, apa akua telah Kartini…?! Heiii…!”

***

20 Juni 2008, sebuah kecelalakaan jalan raya yang tragis mengakibatkan empat orang meninggal dunia, 3 orang leleki dan seseorang perempuan. Perempuan itu bernama Arini, 27 tahun. Didalam mobil yang dikendarainya ditemukan sebuah catatan kecil, sebuah catatan kecil yang tidak diketahui penulisnya, sebuah catatan kecil yang menumbulkan tanda tanya besar bagi orang yang membacanya;

“Namaku Gresilda. Ayahku adalah seorang penyair yang licik akan kata-kata. Media-media sewaktu hudupnya, menjulukinya Jenius Gila. Ayahku bernama Pramudya. Setahuku, ia adalah laki-laki yang baik. Aku masih rindu nasehat-nasehat bijaknya, aku masih rindu kehangatan tatapan sayangnya.
Ayah meninggal akibat sebuah kecelakaan pesawat terbang. Saat itu, ia hendak pulang bersama hadiah yang diserahkan Kepala Negara atas karya-karya sensasionalnya yang merambah belantara internasional. Hanya sedikit yang tau, bahwa ia meninggalkan kami dengan segenap kerinduan yang dibawanya. Ya, sebelumnya ia enggan untuk pergi, ia tidak tega meninggalkan aku dan ibu. Wajar saja waktu itu umurku masih genap 10 tahun, 10 tahun tebaik dalam hidupku, 10 tahun yang selau ku rindu.

Namaku Gresilda. Ayahku adalah seorang penyair yang licik akan kata-kata. Media-media sewaktu hudupnya, menjulukinya Jenius Gila. Ayah mengadopsi namaku dari bahasa Teutonic. Saat umurku 8 tahun, aku diberi tahu ibu bahwa Gresilda berarti pahlawan perempuan yang keibuan. Entah karena nama, yang pasti sejak kecil aku mengagumi RA Kartini, aku ingin menjadi Kartini. Seperti Kartini, aku ingin perempuan-perempuan berkarya dan mendapatkan haknya.
Saat ini aku adalah mahasiswi jurusan Politik disalah satu Perguruan Tinggi Negeri. Jika semua berjalan lancar, aku akan wisuda bulan September depan. Aku baru saja memberi tahu ibu, sekalian menyampaikan maksud kepulanganku menemuinya.

Ibuku adalah wanita perkasa. Ibuku adalah satu dari sedikit perempuan yang mengecap pendidikan dan mempunyai karir sendiri di jamannya. Dulu, ibuku adalah seorang Pengacara. Dipenghujung karirnya, ia mendirikan sebuah sekolah gratis di daerah pinggiran bagi anak-anak yang tidak memiliki biaya untuk bersekolah ke kota. Disanalah saat ini ia tinggal, tempat dimana aku kan menemuinya”


***

Seorang lelaki muda duduk didekat perapian. Ia baru saja selesai menuliskan sebuah cerita. Baginya kali ini malam tidak seperti biasanya, ada sedikit rasa puas yang menggelora dibatinnya. Tiba-tiba sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya.

” Pram, kamu dimana sayang…?”
Seorang perempuan cantik muncul dari balik pintu kamarnya. Pram buru-buru mengemasi kertas-kertasnya, ada sedikit kecemasasn diraut wajahnya.

”cerpen kamu udah selesai ya, boleh aku baca sedikit?”
“hmm, anu…begini Arini, aku…aku ngerasa cerita ini belum pas aja ama tema Kartini dan Feminisme. Mungkin butuh sedikit revisi, ntar aja ya sayang. Ntar kamu boleh baca semuanya kalau cerita ini udah sempurna”.
Pram terdengar sangat hati-hati dalam perkataanya. Perempuan manapun pasti mengerti bahwa ada sesuatu hal yang terjadi, pikir Arini. Arini memandang tajam pada Pram, ada sedikit api dihatinya, ada sedikit kecurigaan yang menjalari pikirannya.

“ apa ada yang kamu sembunyiin dari aku, sayang? Soalnya nggak biasanya kamu seperti ini, aku lihat kamu kayaknya kok nyimpan sesuatu dari aku!!?”.
Ucapan Arini yang dibumbui dengan intonasi dimana-mana menyadarkan Pram, bahwa ia tidak bisa lagi menyembunyikan tilisannya. Tapi ia bisa berkilah, ia tahu itu. Pernah suatu hari ayah Pram berkata, perempuan secerdas apapun, dimanapun, kapanpun akan menjadi bodoh didepan lelakinya. Dan ia percaya hal itu dengan penuh. Tidak itu saja, ia juga percaya bahwa lelakipun begitu, lelaki akan kelihatan bodoh dihadapan perempuan yang dicintainya.

Pram menghela nafas panjang
“baiklah, kalau kamu maksa, kamu boleh baca satu bagian”
“kenapa aku ga boleh baca keseluruhan?!”

Arini semakin mendesak suaminya. Tatapannya sinis, api dihatinya membakar keseluruhan kesabaran. Pram menyadari betul keadaan ini, dengan hati-hati Pram mencoba meredakan suasana”.kamu berlebihan sayang bukannya tadi udah aku jelasin ke kamu kalau masih ada beberapa bagian yang harus direvisi. Jangan curiga dulu…,masa sama suami sendiri tidak percaya…??”

Benar saja, badai diraut wajah Arini mulai meriak ,dan Pram buru-buru mengalihkan pembicaraan. Dia pikir akan lebih baik jika begitu. setidaknya Arini akan melupakan masalah tanpa tau dia telah digiring untuk melupakan, seperti kelinci yang digiring kedalam kandang pemotongan.

” Sayang, ngomong-ngomong malam ini ki…”
“aku mau kembali kekantor, Pram. Habis itu mau berangkat keluar kota. Besok pagi aku harus ketemu klien disana, mungkin pulangnya lusa.”

Badai tiba-tiba berputar kesisi Pram.
“tapi Arinii..,kamu baru saja pulang..!!”
Arini tertunduk

“maaf sayang, klien ini penting sekali bagi karir aku. Jika aku bisa mempengaruhi klien ini, kemungkinan besar aku akan dipromosikan. Kamu tahu kan..?!bagi aku karir itu sangat penting”, jawab Arini. Akan lebih baik jika ia langsung menjelaskan alasannya, pikir Arini. Tapi ia salah. kemarahan Pram justru begitu terpancing mendengar ucapan istrinya.
“terserah…!!!”
Pintu kamar yang tanpa dosa menjadi sasaran amukan. Pintu berbahan jati itu dibantingnya dengan keras. Ia sudah tak tahan lagi, ia tidak dapat lagi menahan kekecewaannya. Amarah yang telah lama dikandungnya kini membuncah…!

***

Pram berjalan dengan nafas memburu, seluruh yang ada padanya telah geram, mendesaknya mengucapkan sebuah kalimat ;”arggh, aku ingin Kartini mati, aku ingin membunuh Kartini..!”

Lalu diingatnya pertemuan sore tadi dengan seorang gadis bernama kinar, sebuah suara berbisik ditelinganya; “kenapa tidak kau bunuh saja istrimu itu?”. Pram termangu, ia terduduk di sofa. Matanya masih sempat menangkap sekelebat bayangan istrinya yang menatap padanya dengan penuh dosa dan penyesalan, lalu keluar lewat pintu seperti beberapa malam yang biasa.

Sesuara kembali berbisik dikepalanya.

“Jadi bagaimana?!, ini kesempatan kamu Pram, bunuh…!!,bunuh saja istri kamu..!!”

Pram tertegun. Beberapa saat kemudian dengan pelan dijawabnya bisikan itu;
“aku mencintai istriku, aku hanya ingin membunuh kartini…”
“tapi Kartini sudah mati”
“ia telah kuhidupkan lagi dalam ceritaku, kubunuh, kuhidupkan lagi, lalu kubunuh lagi..”
“Kartini hidup dalam istri kamu…!, bukan pada ceritaa…!!
“tahukah engkau bahwa aku ingin istriku?, bukannya mayat Kartini..!!.

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Mei 16, 2008, in cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: