keping-keping kuping


berkeping-keping kuping hasil tebasan sebagai rampasan perang tergeletak lemas dilantai marmer kamar itu. aku tercekik, ketika mereka menunjuk-nunjuk hidung seorang perempuan dengan tangan dan kakinya terikat, dan berteriaklah mereka dengan ganas: “inilah hukuman bagi teman-temanmu yang telah bicara dan mendengar bualan tentang agama bulan…!!”.

aku berlari. meninggalkan telinga yang berserakan, anak-anak tuhan dan sepasang manusia kasmaran di malam minggu itu pukul delapan

persembahan untuk jiwa yang tergila dan sahabatku, yandra

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Juni 2, 2008, in sajak and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. hehehe…
    Nice poemss…
    Gw suka puisi…
    Hehehehe…
    salam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: