jogja, siapa puisiku?


wow…wow…kenapa yang seperti ini tidak terlihat di jaman kita SMA ya…”

hahaha…kau ingat masa-masa ketika kita tengelam dalam arus yang meremukkan itu?akhirnya kita tak berlumur lumpur lagi, dan selembar kertas layangan meliuk2 sepersejuta kecepatan cahaya..(waktu itu kau tak mau tau dimana benangnya berpangkal)

“is it really u bang redy? sangat bagus
emang sih nggak semapt baca semua, coz udah magrib di jogja.”

huffth…kau bahkan kini tak mengenalku lagi. kita terlalu jauh untuk jumawanya kekaguman. oia, dua tahun lalu saat magrib aku menemukan setumpuk sampah di tengah kota yang usang dijantungku. diantara tumpukan itu terdapat kepala manusia. menakutkan. waktu itu aku bahkan tak tahu apa aku harus menjerit atau berlari..!

“just comment: puisi yang bagus, menentang jiwa, but sometimes kata-kata yang lebih sederhana indah, mudah dimengerti lebih asyik ya..
tergantung kepada si pengarang sih itu dibuat untuk diri mereka atau si pembaca”

ah…aku tak pernah mengarang puisi. puisi telah merangkulku menjadi mulutnya. dan engkau takkan pernah tahu bagaimana menyebut mulut tanpa kujentawahkan sebuah bahasa untukmu..

“kalau cerpen, dikit baca-baca..
back to how to write..kadanng cepern popular memang seenak kita untuk bikin. tapi, tidak mungkin kita keluar dari sistem penulisan bukan?”

sistem. aku telah mengenalnya sejak lahir.  dan aku menghindar darinya, seperti seekor burung yang terbang menghindar dari sangkar emasnya. apa kau mengenal sebuah penyakit yang tidak teratur yang bahkan seorang dokter terhebat didunia saat ini mesti menangis untuk tau gejalanya?ah, justru aku ingin mati bersamanya..
“just my opinion, kalau salah maafkan
teruskan berkarya, karena saya bangga punya kakak kelas yang hobi menuangkan pikiran dalam kata-kata…”

kau benar2 lucu..,tentu saja tak ada yang salah. seperti cinta yang tak butuh perjuangan. seperti kematian yang tidak butuh seremoni pesta-pora. aku akan terus menulis sebagai karya. kau tahu, aku adalah karya dari puisiku. tapiaku mengendalikannya dengan segala kekuatanku hingga ia mewakiliku sebagai dia yang menghasilkan aku. dan engkau tak perlu bangga. aku hanya suara dari kesadaran terakhirku…

“BERSEMANGAT!!”
…….ya..,bersemangat. kata terakhir yang menghantuiku sejak senja itu

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Juni 12, 2008, in sajak and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. waah,,,pak,
    ko yobana tayak ndak ko??
    diragukan..

    kata2nya sama skali berbeda dg wajahnya nya..bertolak belakang…
    kata2nya indah..tp wajahnya…
    wakakkakakakaka..
    just a joke pak..

    kato2nyo mantap..
    mantap bana ko ha…
    masuak an ka perlombaan,,manang ko ma..
    yakin ka..
    cayo!!!!
    smangat..!!!
    (sorry bahaso agak lari2…sakarek ula,,sakarek caciang…hwehwehwe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: