seremoni penelanan (1)


mulutku menelan tubuhku tanpa diremukkan, tanpa sempat dilumatkan .
angin tahu. tapi angin justru mengoceh sendirian, tak ada keinginan menceritakan kejadian barusan pada teman-teman. tapi burung diam-diam mendengar celotehan itu saat angin lewat diketiak, diantara sayap yang merentang menampung.

oh, burung memang tak punya bahasa ‘pulang’ sebelum terbang pada sarang…

mulutku menelan tubuhku. tubuhku sendiri, tubuh dari mulutku pribadi. engkau tak tahu, tapi aku akan bukakan rahasia semesta bagi engkau yang jalang : tentang bagaimana menelan tubuh sendiri dengan mulut pribadi…!!!

mari, ada tiga tahapan menuju penelanan : tiga rumah yang jurang. tiga kata yang saling perang dengan tiga juntai permata di leher bunda yang dilakonkan siang. Dan remang-remang kota tualang bersama jamuan bibir terhadap persinggahan pada liang.

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Juni 25, 2008, in sajak and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: