ciuman perpisahan itu?


haruskah aku menciummu sebagai tanda perpisahan kita yang pertama?

kuminta jangan kembali lagi kekota kita. ia akan kukubur bersama kepergianmu.  bersama cemara yang tumbuh dari telingaku. dan, dan bersama menjauhnya jarak langkahmu aku akan menanggalkan kotamu dari kotaku. mungkin kutinggalkan sebagai kota mati yang merindukan ibu susu, mungkin juga seperti genangan yang tampak nyata bagi fatamorgana ditengah oase rindu.

haruskah aku mengecup bibirmu sebelum kau berlalu?

aku akan membakar lagi semua surat cintamu, menjadikannya abu dan kubasuh dengan keringat tabu yang dulu kita sentuh dengan ragu-ragu. lalu. lalu mungkin kucukupkan semua dirimu hingga batas saat itu. dan kurasakan perlahan apa-apa yang tersisa untuk kubuang seberapa bisa. persetan segalanya..!!aku ingin kau pergi, lupa jalan kembali dan tak menambah daftar yang perlu kucantumkan pada folder rindu lagi

tolonglah, haruskah aku mengingat sesuatu dari kesepian yang menungguku?

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Juli 21, 2008, in sajak and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: