TUJAH


(1)

Episode : dilahirkan…

Empat kelinci dikurangi tiga kelinci ditambah enam kelinci sama dengan tujuh kelinci

Empat mati, tiga mati, enam mati, sama dengan tujuh mati

Untuk mati ia perlu wajah mati. Kekasihnya akan menunggu disana sebagai kuali. Ia harus memanggang tubuh ibu hingga jadi abu untuk lahir disana sebagai sebentuk debu. Dunia yang dikenalnya mengucap selamat datang pada ia yang baru (hanya sudut pandang yang selama ini terpaku dari manusia terdahulu).

Empat mati, tiga mati, enam mati, sama dengan tujuh mati

Sayang, kelahirannya bukan keputusannya. Mereka bilang ada dunia yang mengaku menjulurkan nafas untuknya:sebagai bentuk hukuman dan hinaan. tapi hukuman apa bagi mereka yang hanya bisa pipis dan menangis. Orang tua hanya mampu main mata, menuliskan makna dan mengeja : satu, dua, tiga. Ah, untuk mati ia butuh wajah mati.

Untuk hidup ia butuh hitungan lagi.

Satu mati

Dua mati

Tiga mati

Sama saja, tujuh kelinci..!

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on September 13, 2008, in sajak and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: