tujah[2]


[2]

episode : kanak-kanak

ia melantunkan sumbang yang lahir dari becek dan sampah. gedung-gedung perkasa menelan tempat-tempat bermainnya, kelereng yang dirindunya menggelinding ke perut ibunya, memuntahkan riak dari gairah bapak. maka akan ada saudara yang mengerti pertemuan dengan bahasa pulang, kemudian memilih mati, tepat sebelum menjadi tulang-belulang. tapi ia selalu bisa melupakan. ibu-bapak berterimakasih pada besi-besi tua, gelas plastik, dan kertas penuh tulisan atau angka yang bisa ditukarkan dengan permen rasa mangga.

pagi dini hari, penghuni lemari pakaian menghujami punggungnya. ikhtisar kemarahan bapak sia-sia, ia tersungkur dikaki pelangi, kemudian mengeja darah dengan salah, luka tak pernah sembuh atau nanah. sore,ia main lagi, penghuni lemari menunggu pagi dini hari.

ia melantunkan sumbang dari darah dan nanah. asap tebal yang memakan teman-teman sedarah, setanah. bolakaki tumbuh di perut ibunya. maka, akan datang saudara sekuburan, tak lama kemudian lalu bosan dan memilih pingsan diantara jalan raya.

ibu-bapak lupa akan perempatan yang telah memberi kesempatan anak-anak mereka mengecap kembang gula.

di perempatan, lirik terakhir dari bait sumbang terakhir, tertahan hujan : “tujah…tujah…,umpatan hanya dikenal remaja dan orang tua karatan”.

bersambung ke [3]dst.

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on September 19, 2008, in sajak and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: