SEKETIKA IA MENUA: Teman Kecilku Tak Lagi Setia


Cercaan dari mulutku yang keluar dengan irama tapal kuda tak membuatnya bergeming sedikitpun. Di hatinya bersemayam rumah tua dari besi tua. Di keningku, karat dari senyawa garam menari ceria…!!!

Kematian yang diramalkan telah dekat dengan rumahnya berbalik arah. Ia menemukan suatu bentuk baru keterasingan yang mulai menua, keterasingan yang tak pernah cukup tua untuk sekarat atau sekedar untuk mengulang-ngulang kata yang sama disetiap kesempatan bicara.

Ia mempertanyakan kesehatan psikologisnya, melebarkan jarak sesungguhnya antara mata penuh dosaku dengan matanya yang kehilangan cahaya. Mata itu Lalu akan bernyanyi dalam bahasa yang tak mampu kumengerti: ia seperti mengucapkan sebaris kata-kata bijak pada seorang balita muda.

Aku terus menulis dengan tergesa, mengikuti kemana saja mata itu tertuju sembari mengharap menemukan diriku menyeringai di salah satu penjuru.

mebua

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Maret 25, 2009, in sajak and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: