prasejarah buahdadaku


lelaki disebelahku bersedih. sayang, aku tak mampu menjual  jiwaku lagi, seperti dulu…ia menangisi tempat yang dirasa seperti rumah baginya. sayang.., aku tak menjual roda lagi, seperti dulu…

sekarang, lelaki disebelahku mengadu resah pada buku…seorangpun tak membacanya (tidak pula aku). rasanya tersimpan selamanya bersama kematiannya. rasaku menguburnya, menggilai ketulusannya. sayang.., aku bukan bagian bukunya lagi, seperti dulu…

sekarang, lelaki disebelahku itu menyerah dibalik selimutnya…sorangpun tidak menjenguknya (tidak juga aku). sejarahnya menggenapi kuasanya atas tubuh kedua. sejarahku menyentuhnya, merangkulnya, sayang, aku bukan lagi bagian dari selimutnya, hanya seperti dulu…

seperti dulu, aku hanya akan memandangnya dengan tatapan pilu itu (masih mengertikah ia buah dada berwarna biru langit subuh?)

who is that?

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on April 8, 2009, in sajak and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: