Kelip kelap kulit kelammu


akhirnya kutemukan dalam keterbakaran punggungku yang kemarin: sumber cahaya mengutuk kulitku,

Irama jazz, kutelan sebagai sebulir es , mengeliat dari muntahan kucing bulan lalu, es yang membekukan persendian dari bus terakhir yang menuju perhentianku.Maka maaf, Puisi pertama yang kesepian bersamamu kubawa kembali untuk kuhantar kerumah-singgah.
Dirumah singgah ia akan segera melupakan: Tak baka darah, Tak mewujud jerit kulit
(lahirlah puisi-puisi muda!!hinggap dipangkuanku!!)

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Juni 14, 2009, in sajak. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: