Haruskah Kita Selesaikan?


Aku nemu menara dari anak buah dada. Dan akupun melupakannya; secepat kaki-kaki sejarah berlari meninggalkan kita.

seperti yang kau tahu,  kuteguk sisa ikhtisar getar, justru karena aku tak pernah tau : “seberapa banyak tubuh kita mampu menampung ce o dua” atau “seberapa sisa ruang untuk kita main mata.

Namun malah kau gigit mesra lidahku, dan saat itu juga aku (ingin) merangkulmu, bersetia dengan waktu.

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Desember 11, 2009, in sajak. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: