KAU LARANG MEROKOK


(1) El, setelah peluru yang kukirim nyasar ke dadamu aku adalah rumah hantu abu-abu (kau masuki ragu-ragu).  Dengan penuh curiga,  segera saja kau lepas jahitan di kepala dan di tetek bandara; kau lepas rindumu di udara.

Segala yang kini kau kira percuma dan sia-sia, kau gubah jadi kata sederhana; “complicated”, katamu. Di balik kulit, aku terpaksa membisu, meringkuk di lubuk, untuk kemudian membusuk seirama letupan gulungan kertas sumbu; akulah pembunuh kekarmu yang angker

(MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER)

(2) El, kita telah diasin-asingkan kiamat; pada dendang garang kata tamat.  Irisan batok kepalaku telah mencekikmu. Kau yang telah mampu berhitung, kini menabung garam; dimatamu, dan mataku.

Siksa untukmu yang kuselipkan di lobang gigiku telah kumuntahkan; setajam serapah (kontroversi tanpa akar masalah, kontradiksi dari aku yang pernah gemar bersumpah)

Aku mencumbu rasa sakitmu; kematian dariku yang tidak butuh aba-aba (bahkan jejatuhan batu bata). Kau meringkuk terhimpit bangunan. Sebab ketika kata-kata tumpah ditubuh sebagai musuh; duniamu sontak luruh, runtuh. Padaku kata-kata masih pandai bicara: terimakasih kurir kosong delapan lima dua “we has been delivered,  fastly and absolutely safetly”. Dan cermin serta kaca-kacaku pecah; Pesawat tempur terbang rendah.

(MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN SERANGAN  JANTUNG)

(3) Penyair yang lapar telah kehabisan sajak berkelamin rayu, El. kumohon kau menyerah tak bersyarat ke rumah makanku.

(MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN IMPOTENSI)

(4) Pada satu episode,  El, aku pernah bermimpi melukis satu telur asin pemenang lomba; lomba yang berhadiah utama senyawa keras wajahmu, gemetar bibirku. Tapi jutaan telur asin dari tokoku mungkin tak akan pernah kau temui di meja kerjamu. Sebab kini kau dirasuki radiasi, dilarikan oleh kata-kata dan enggan kembali. empat roda yang kukirim dari kurir kosong delapan lima dua telah mencuri jabang bayi. Keparat yang telah menggali kubur bagi telur asinku pantas sengsara (aku yang mengerut.

Sekarang katakan!,  tetap masih belum kau bacakah sesalku?.

Dan dari sesal yang bebal, untukmu pernah kuurai setampuk rayu; “hapus saja El, toh, ia hanya sejumput kata akhir yang mesra”. Dan kau belai seonggok batu; “padamu memang segampang lupakan nomer telpon sedot tinja” (garam pandai menyair di matamu, dan dengan diam-diam cegukan sajaknya mengintaiku)

(MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN)

Padang, 2010

About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Desember 18, 2010, in sajak and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: