Air Tidak Tersedia Untuk Cuci Muka Ataupun Buang Air


RAMBUTNYA sudah memutih. Seperti laki-laki paruh baya kebanyakan, perawakannya sedikit gemuk. Dengan telaten pengurus mesjid tersebut mengayunkan sapu, membersihkan debu-debu yang tersisa dari para pengunjung. Di halaman, ia mengumpulkan kerikil, kemudian meletakkan kembali kerikil tersebut ditempatnya.

Memang, di halaman ada kerikil lain yang sengaja di tumpuk sebagai penghias halaman. Mesjid tersebut cukup besar dengan halaman yang cukup luas. Bangunannya di cat berwarna hijau. Berdiri di tepi jalan Kampuang Tangah, Lubuk Alung, Kilometer 33 Jalan Raya Padang-Bukittinggi, plang Mesjid dibuat berbahan seng, berukuran sekitar 50cmx 1m, berdasar putih dengan tulisan berwarna merah. Kalau tidak salah tulisannya berbunyi : Mesjid Siti Hajar.

Kami memutuskan berhenti disana untuk melaksanakan ibadah sholat. Teman saya memang terhitung sebagai umat islam yang taat. Dulu, Ia pernah mencerahami saya: “Tidak ada alasan untuk tidak sholat, dalam perjalanan pun, jika kita masih bisa sholat, harus sholat”. Saya tidak ingin lagi berdebat ulang, saya pun memarkir kendaraan di mesjid itu.

Kami mengendarai sepeda motor merek Honda keluaran tahun 1999. Untuk ukuran sepeda motor, kendaraan saya memang sudah ketinggalan mode. Tapi jangan salah, meskipun ketinggalan mode, layaknya sepeda motor lain, saya tidak kesulitan untuk memarkirkannya (pastinya!).

Setelah diparkir, teman saya langsung berjalan mencari tempat berwudhu. Tiba-tiba, dari kejauhan bapak pengurus mesjid berteriak. “Mau apa, cuci muka?!!”, Hardiknya dengan nada sedikit kasar pada teman saya. Kami sedikit terkejut. Diteriaki seperti itu, teman saya sempat terdiam sejenak. Teman saya memang berjalan ke arah yang salah saat hendak berwudhu. Setelah teman saya menjelaskan niatnya untuk sholat, si Bapak tidak kunjung menurunkan nada bicaranya. “Baru kali ini kesini?!, tempat whudu lewat sini! makanya bertanya!. Malu bertanya sesat dijalan!”, ujarnya kemudian – masih dengan nada tinggi.

Mungkin karena instingnya sebagai perempuan, mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan hati tersebut, si teman melihat ke arah saya, meminta bantuan. Saya cuma tersenyum sebagai isyarat “tidak akan ada masalah”. Setelah itu, teman saya kembali berjalan ketempat whudu sementara saya tetap memperhatikan bapak tersebut.

Tidak lama kemudian, seorang teman lain yang kebetulan melihat saya sedang parkir di mesjid ikut berhenti. Setelah bertegur sapa sebentar, ia minta permisi untuk mencuci muka ke kamar mandi yang berada di dalam mesjid. Bapak tadi masih menyapu di dekat pagar. Teman saya kemudian bertanya kepada si bapak arah ke kamar mandi yang benar dan dijawab juga dengan nada tinggi: “Mau apa? Kami tidak menyediakan air untuk cuci muka!”, ujarnya.

Terkejut, teman saya yang juga seorang perempuan tersebut kembali menghampiri saya. “Pa*tek apak ko mah, poak e lai, masih banyak mesjid lain mah yo!”, (Pa*tek Bapak ini, sombong sekali, kan masih banyak mesjid lain!), ujarnya mengumpat. Saya hanya tertawa. Setelah puas mengumpat, teman saya tersebut minta diri untuk melanjutkan perjalanan. Dan dihalaman mesjid tersebut, saya kembali berdua dengan si Bapak. Kami tidak bertegur sapa, mungkin ia pun ragu karena saya memperhatikan dia cukup lama.

Teman saya masih belum selesai sholat, saat sepasang remaja laki-laki juga berhenti untuk sekedar buang air. Mereka pun menghampiri si Bapak dan menanyakan kamar mandi. Seperti sebelumnya, si Bapak menjawab dengan nada dan jawaban yang sama: “Pergi, kami tidak menyediakan air untuk buang air!!” ujarnya. Dengan wajah kesal, mereka pun meninggalkan mesjid.

Fungsi Mesjid?

 Sosok bapak ini mungkin memang mengesalkan. Tapi tentunya tidak bijak jika kita buru-buru marah kepada si Bapak. Tidak dapat kita pungkiri, dalam perjalanan kita sering hanya singgah ke mesjid untuk sekedar buang air ataupun cuci muka. Mungkin inilah yang menjadi sumber kekesalan si Bapak: Mesjid bukan WC umum.

Dibalik itu semua, Bapak tersebut mungkin memang bukan orang yang bijak juga. Menurut sepengetahun saya, Mesjid adalah rumah tuhan dan milik semua umat muslim. Rasulullah pernah bersabda: “Masjid itu adalah rumah setiap orang yang bertaqwa, Allah memberi jaminan kepada orang yang menganggap masjid sebagai rumahnya, bahwa ia akan diberi ketenangan dan rahmat serta kemampuan untuk melintas shirathal mustaqim menuju keridhaan Allah, yakni syurga” (HR. Thabrani dan Bazzar dari Abu Darda ra). Layaknya rumah, tentunya tidak salah jika orang-orang beriman menggunakannya, bahkan untuk tempat cuci muka ataupun buang air.

Lagi pula, jawaban si bapak yang menggunakan kata “kami” tentunya sangat bertentangan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Allah Ta`ala, maka janganlah kamu menyeru seseorang beserta-Nya.” (Q.S. Al-Jin (72):18). Selain itu, dalam sejarahnya, mesjid adalah tempat sentral kegiatan umat islam, baik dalam bentuk ibadah khusus (ritual) maupun ibadah umum (sosial). Hal-hal ini telah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW sejak di masjid Quba sampai di masjid Nabawi di Madinah.

Wallahualam. Jika saya yang tidak begitu mendalami ilmu agama ini berkata: “Tidak salah juga kan kalau saya buang air kecil ataupun cuci muka di Mesjid?” Orang lain boleh menjawab: “Wallahualam.”  Sebagai Muslim yang ilmunya baru setengah-setengah, tentunya pernyataan saya diatas perlu dikaji ulang. Yang jelas, kali ini saya tahu saya tidak salah menulis kalimat ini: “mohon pencerahan dari orang-orang yang berilmu”. ***


About tayak

pecundang yang tidak ingin tenggelam dalam lumpur kebodohannya

Posted on Januari 25, 2012, in Essai, sajak and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: